Ayah dan ibu Amar terus berusaha agar jangan sampai anaknya merasa sendirian hanya karena transisi yang dia lakukan. Dukungan dan cinta dari orang-orang terdekat itulah yang menguatkan Amar untuk mengejar mimpi melanjutkan kuliah ke jenjang S-2.

TERKEJUT, marah, lalu mengusirnya. Sederet kekhawatiran itulah yang berkecamuk di benak Amalia jika dia akan terbuka kepada orang tuanya.

Butuh waktu tidak sebentar bagi dia untuk sampai pada titik: apa pun konsekuensinya akan kuhadapi. Dan, akhirnya kepada orang tuanya dia terbuka bahwa dirinya hendak bertransisi menjadi laki-laki. Menjadi seorang transpria.

Ternyata yang dia khawatirkan tak terjadi. Ayahnya yang seorang kiai pengasuh sebuah pondok pesantren di Kendal, Jawa Tengah, dan ibunya, seorang Nyai, bisa menerima keterbukaannya itu.

’’Ibuku justru orang pertama yang bilang, Ibu lega kamu mau cerita. Ibu makin sayang sama kamu,’’ kenang Amalia yang kemudian resmi berganti nama menjadi Amar Alfikar pada 2016 itu.

Bulan lalu Amar sengaja membagikan kisah hidupnya tersebut di Twitter untuk menghormati kedua orang tuanya, KH Syamsul Maarif dan Nyai Hj Asnijah, yang telah berpulang. Berkat mereka, dia tidak ragu untuk melewati jalan yang panjang dan berbatu tersebut.

Bagi dia, warisan terbesar keduanya adalah cinta dan penerimaan terhadap dirinya.

’’Aku pribadi ingin banget banyak bicara soal ini, bagaimana aku melihat kedua orang tuaku yang punya posisi di institusi Islam,’’ ungkap Amar saat dihubungi Jawa Pos (grup Batampos Online) pada Jumat tiga pekan lalu (3/7).

Proses transisinya dimulai pada 2015. Tapi, jauh sebelum itu, dia menyadari identitasnya sendiri. Penerimaan orang tuanya itu juga bukan tanpa proses. Ada masa naik-turun juga. Hingga dua tahun mereka lewati dengan ratusan kali diskusi dan saling berbagi.

Paling banyak dengan ibunya. Sedangkan sang ayah paling semangat mewanti-wanti apa pun kondisinya saat itu, jangan sampai menghentikan semua usaha dan mimpi-mimpinya. Amar masih kuliah saat itu. Mengambil jurusan sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang.

Sejatinya Amar sudah selesai skripsi saat proses transisi itu mulai dia jalani. Tapi, tidak bisa segera lulus. Sebab, dia ingin lulus dengan identitasnya yang baru. Perlu menunggu proses legalitas lagi hingga dia hampir drop out. Amar akhirnya lulus pada 2016 dengan nama barunya.

’’Bapak hanya bilang, apa pun kondisimu, jangan sampai kamu berhenti kuliah,’’ kenangnya.

Omongan orang lain pasti ada. Kedua orang tuanya pun sampai kenyang menerima komentar miring. Tapi, konsekuensi itu sudah dia duga dan tak menyurutkan semangatnya untuk bertransisi menjadi dirinya yang sebenarnya.

Selama proses itu pun, tak henti-hentinya sang ibu bertanya apa yang Amar rasakan. Memastikan dia tidak terpuruk atau merasa sendirian. Ibunya melakukan pendekatan ke dalam diri Amar sendiri. Sang ayah berperan di luar.

Saat orang mulai melihat perubahannya, tapi dia belum berganti nama, ayahnya masih memperkenalkannya dengan nama lamanya. ’’Bapak bilang ini Amal, sekarang dia laki-laki. Tapi, ya sudah, jangan diece (dihina),’’ ujarnya mengulangi perkataan sang ayah.

Amar tak bisa tidak kagum kepada kedua orang tuanya. Mereka konsisten mengamalkan pemahaman Islam yang ramah seperti yang selalu mereka dakwahkan.

Ayah dan ibunya punya prinsip bahwa Amar tetaplah anak mereka. Bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah, ujian untuk mereka sebagai orang tua.

’’Jangan sampai saya menelantarkan dia, kalau begitu saya gagal sebagai orang tua.’’ Begitu prinsip mereka, seperti ditirukan Amar.

Amar menyadari setiap orang yang seperti dirinya punya pengalaman berbeda. Sebagian besar mengalami kepahitan. Akhirnya mereka tak begitu lekat lagi mendalami ilmu agama.

Namun, Amar justru semakin cinta pada ajaran agama dan makin rajin beribadah karena orang tuanya. ’’Saya beruntung punya orang tua seperti mereka,’’ tuturnya.

Amar juga mulai mengenalkan dirinya yang ’’baru” ke lingkungan sekitar. Mulanya tentu banyak penolakan. Apalagi, awalnya dia berjilbab. Tetangga dan teman-teman tahu bagaimana prosesnya. Sebab, Amar yang dulu aktif di organisasi pelajar putri itu menjalani proses transisi di rumahnya.

Teman-temannya perlahan akhirnya bisa menerima Amar. Malah mereka banyak bertanya tentang Amar yang sekarang. ’’Saya selalu terbuka. Mayoritas mereka tetap menerima saya berorganisasi,’’ ungkap pemuda 29 tahun itu.

Menyadari tak semua orang seberuntung dirinya, Amar tergerak membagikan kisahnya di media sosial. Tentu sempat ada rasa ragu.

Tapi, keluarga dan kawan-kawan terdekatnya terus mendorong. ’’Ceritamu ini jangan hanya berhenti di kota kecil kita. Kalau hanya di sini, orang nggak tahu manusia seharusnya begini. Mendukung, menghargai, dan tidak menyakiti,’’ ujar Amar, menirukan dorongan keluarga dan kawan.

Dengan warisan dukungan dan cinta kasih orang tuanya, Amar tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, juga orang lain yang terinspirasi dari kisahnya.

Sekarang, dia sedang mengejar mimpinya yang lain. Melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. ’’Inginnya ambil human rights,’’ katanya.(*/c7/ttg)