batampos.co.id – Memperingati Hari Anak Nasional yang bertepatan kemearin, Kamis (23/7), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan catatan penting dalam pendidikan Indonesia. Salah satunya adalah mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ), di mana yang diperbolehkan hanya yang berada di zona hijau.
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti pun menyebut, keputusan tersebut sangat dilematis, karena kalau membuka sekolah tatap muka akan membahayakan kesehatan dan keselamatan anak-anak.
Di sisi lain pemerintah juga belum melakukan evaluasi dan perbaikan untuk PJJ fase kedua. Padahal, data menunjukkan anak-anak tertekan selama PJJ fase 1.
“KPAI mendorong ada perbaikan dalam PJJ fase kedua agar anak-anak dapat menjalani PJJ dengan kondisi bahagia. Karena 79,9 persen siswa menyatakan tidak senang belajar dari rumah karena 76,8 persen gurunya tidak melakukan interaksi selama PJJ, kecuali memberikan tugas-tugas saja,” ungkapnya melalui keterangan resmi, Kamis (23/7).
PJJ pada fase 1 pun dianggap tidak berjalan efektif, terjadi bias kelas sosial ekonomi, bias perkotaan dan pedesaan serta bias Jawa dan luar jawa. Selain itu, ada juga masalah jaringan dan ketidak mampuan keluarga peserta didik membeli kuota internet.
“Oleh karena itu, KPAI merekomendasi agar pemerintah mengratiskan internet untuk PJJ fase 2 selama 6 bulan kedepan,” jelas dia.
Kemudian, pihaknya juga mendorong ada perbaikan dalam PJJ fase kedua agar anak-anak dapat menjalani PJJ dengan kondisi bahagia.
“Jika PJJ diperpanjang, namun tanpa perbaikan dan dukungan internet negara, maka hal ini akan berpotensi meningkatkan stress pada anak yang berdampak pada masalah psikologi anak-anak,” ungkap dia.(jpg)
