batampos.co.id – Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengatakan, bahwa tidak semua siswa dapat menikmati Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan nyaman dan tenang. Kondisi ini harusnya menjadi perhatian utama dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.
“Setidaknya ini tanda bahwa ada masalah di sistem PJJ yang saat ini dilakukan Kemendikbud RI. Tidak semua siswa dapat menikmati PJJ dengan tenang. Masih banyak yang kesulitan karena kurangnya fasilitas,” ujar Mardani kepada wartawan, Senin (27/7).
Mardani mengungkapkan keluhan, saran, kritik bahkan umpatan berdatangan dari para orang tua siswa (OTS) atau pemerhati pendidikan anak bangsa mengenai PJJ tersebut.
“Terlebih baru saja kita memperingati hari anak dengan pesan khusus melindungi anak bangsa sebagai aset berharga NKRI,” katanya.
Legislator yang duduk di Komisi II DPR itu juga mengatakan, penerapan PJJ apalagi secara permanen seperti usulan yang sempat diutarakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim amat tergesa-gesa.
“Usulan ini seakan melupakan masalah lain seperti literasi digital siswa sampai kualitas pengajar yang perlu ditingkatkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Mardani juga mengutarakan masalah lain, yakni soal mahalnya harga kuota internet. Sementara penghasilan orang tua siswa, banyak yang turun drastis akibat Pandemi Covid-19.
“Saat ini yang utama adalah pangan, tidak salah jika kuota internet untuk pendidikan dinomorduakan. Akses internet yang murah harus jadi perhatian pemerintah, terutama untuk pendidikan,” ungkapnya.
“Kita juga memiliki sumber sendiri untuk mobilisasi program PJJ seperti Rumah Belajar yang ada di bawah Kemendikbud. Tapi kenapa tidak dimaksimalkan dan lebih memilih memprioritaskan serta menghamburkan anggaran untuk kerjasama dengan pihak swasta?” tambahnya.
Karena itu, Mardani mengingatkan bahwa Undang-undang mengamanatkan anggaran pendidikan 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Anggaran pendidikan itu, kata dia, harus digunakan maksimal untuk program pendidikan yang tepat sasaran, efektif dan efisien serta memanusiakan peserta didik.
“PJJ di era Covid-19 menggambarkan hal tersebut masih jauh dari harapan. Semoga ke depan penguatan infrastruktur dan ruang kolaborasi bagi banyak pihak dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar,” pungkasnya.(jpg)
