batampos.co.id – Sekolah online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) memang membikin pusing orang tua, anak, bahkan para guru. Namun, guru yang hebat akan tertantang untuk kreatif.
Mereka akan mencari cara agar pembelajaran bisa tetap berjalan. Sebaliknya, guru yang ”biasa-biasa saja” akan selalu mencari-cari alasan saat mendapatkan kesulitan dalam mengajar.
Wasekjen PGRI Jejen Musfah menegaskan, PGRI memastikan bahwa pada prinsipnya kegiatan belajar-mengajar (KBM) harus tetap berlangsung. Apa pun caranya. Bagi guru hebat, PJJ bisa menjadi tantangan untuk mencari cara bagaimana menyampaikan materi pendidikan kepada siswa di rumah. ”Mereka akan belajar secara mandiri melalui berbagai media sehingga menemukan cara-cara terbaik untuk PJJ,” ujarnya.
Menurut Jejen, guru tidak akan mempermasalahkan ada tidaknya jaringan internet dalam PJJ. Bila terpaksa berlangsung dalam kondisi jaringan internet lemah atau bahkan tidak ada sama sekali, PJJ tetap bisa dilaksanakan. Lewat modal faktual yang ada di daerah masing-masing. Yang terpenting, tanggung jawab mengajar siswa bisa tetap terlaksana.
Meskipun demikian, Jejen mengakui, masih ada guru-guru biasa yang mencari-cari alasan saat mendapatkan kesulitan dalam mengajar. Karena itu, kuncinya adalah kreatif dalam mengajar. Bila memutuskan memakai sistem dalam jaringan (daring) alias online, kepala sekolah wajib memastikan semua guru dan siswa memiliki dan mampu mengakses perangkat teknologi. Bila tidak, bisa mencari alternatif lain.
Jejen mengungkapkan, di berbagai daerah, masih ada guru-guru yang belum melek teknologi. PGRI melalui jaringannya di daerah berupaya memastikan KBM tetap bisa dilakukan. ”Sebagian murni PJJ. Sebagian tatap muka dengan waktu yang dikurangi dan menjalankan protokol kesehatan,” lanjutnya.
Pihaknya selalu berkoordinasi dengan jajaran di bawah untuk memastikan semua sekolah mampu menyiasati situasi yang ada. Apalagi, pemerintah sudah memberikan kelenturan kurikulum dan evaluasi. Tinggal bagaimana sekolah dan para guru kreatif menjalankannya di lapangan.
Meskipun demikian, tetap masih ada aspirasi para guru yang perlu diperhatikan pemerintah. Misalnya memberikan kelonggaran agar dana BOS bisa digunakan untuk membeli kuota internet, membayar guru honorer tanpa syarat NUPTK, dan membeli alat-alat pendukung kesehatan di sekolah. Para guru juga berharap tunjangan profesi tetap diberikan di masa pandemi. Begitu pula THR dan gaji ke-13.(jpg)
