Hari ini, Senin (27/7), Plt Gubernur Kepri Isdianto akan mencatat sejarah baru. Ia akan dilantik menjadi gubernur defenitif oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta. Berikut kisah Isdianto semaca kecil hingga menjadi orang nomor satu di Kepri.

Pukulan kentong tanda azan subuh berbunyi bertalu-talu. Lelaki kecil itu mulai menggeliat di atas tikar pandan. Ada rasa enggan untuk bangun di tengah dinginnya subuh.

Tapi, sebentar lagi, Subakir atau Tumirah, orang tuanya pasti akan membangunkannya. Bagi Subakir dan Tumirah, aktivitas memang dimulai sejak subuh. Semua anak-anaknya, harus ikut membantu aktivitas keluarga. Dalam istilah sekarang, membantu keluarga mencari uang.

Isdianto, lelaki kecil tersebut langsung menghilangkan rasa enggan itu. Dia bergegas bangkit. Bersiap untuk salat. Di ruang yang disebut kamar itu.

Selesai memohon kepada Yang Maha Kuasa, Isdianto pun mengambil perlengkapan paginya. Belum perlengkapan untuk ke sekolah. Tetapi perlengkapan untuk menoreh getah. Seperti abangnya almarhum H Muhammad Sani, Isdianto juga harus membantu orangtuanya memotong karet.

Kisah memotong karet ini menjadi penggalan kisah yang selalu disampaikan Isdianto saat berkunjung ke sekolah-sekolah di Kepri. Suami Hj Meri Isdianto ini menyampaikan kepada anak-anak Kepri bahwa kesungguhan akan membawa pada keberhasilan.

“Anak-anak merupakan harapan kita semua dalam menyongsong hari esok yang harus lebih baik daripada hari ini. Mereka harus sukses dan lebih senang daripada kita, sebagai orang tuanya,” kata Isidanto suatu kali.

Menurut Isdianto, getah yang dipotong itu pun bukan milik keluarganya. Ayah Subakir, kerjanya ‘motong getah’ di kebun orang. Selesai memotong getah, barulah Isdianto berangkat ke sekolah. Berjalan kaki. Tanpa pernah menghitung berapa kilometer dia melangkah pulang dan pergi.

Memotong getah dan bersekolah, rutin dilakukan Isdianto. Tanpa pernah menanam mimpi besar tentang masa depan. Seperti yang diamanahkan pada hari ini.

Plt Gubernur Kepri Isdianto. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Aktivitas Isdianto kemudian berubah. Setelah selesai sekolah dasar, Isdianto melangkah ke Kijang. Dia sekolah di SMP PGRI Kijang. Tak tamat memang. Hanya sampai kelas 2.

Isdianto kemudian ke Pekanbaru. Dia melanjutkan pendidikan di SMP 3 Pekanbaru. Isdianto kemudian melanjutkan pendidikan di SMPP 49 Pekanbaru. Tunak belajar dan memegang teguh pesan kedua orang tua untuk selalu menjalankan perintah agama.

Setamat SMA, Isdianto mengikuti jejak almarhum H Muhammad Sani, abang kandungnya masuk ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Jejak-jejak keberuntungan M Sani seakan diulangi oleh Isdianto.

Isdianto, seperti juga Sani, langsung mengabdi di Kepri. Jika Sani menjadi staf di Kantor Camat Kijang, Isdianto menjadi Staf di Kantor Pembangunan Desa Kabupaten Kepulauan Riau pada 1983-1991. Langkah karir Isdianto pun berputar-putar di Provinsi Kepulauan Riau sampai hari ini.

Menjadi Lurah, Camat pernah dilakoni Isdianto. Sebagai mana jejak si Untung Sabut, gelar yang melekat pada H Muhammad Sani. Karir Isdianto sebagai Birokrat terus menanjak.

Ayah tiga anak ini pun seperti menjadi kisah untung sabut episode lain. Ada keberuntungan yang juga menyertai. 21 bulan setelah kakak kandungnya berpulang ke Rahmatullah, Isdianto mendapat amanah sebagai Wakil Gubernur Kepri. Pada 11 Juli 2019, amanah untuk Isdianto terus membesar. Dia diamanahkan sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Kepri.

Dalam perjumpaan silaturahmi dengan masyarakat, istilah-istilah dalam pohon kelapa mengemukan dari Isdianto. Kalau almarhum H Muhammad Sani dengan sabut kepala, Isdianto selalu dengan lidi kelapa.

Di sini, persatuan dan kebersamaan yang ditekankan Isdianto. Dengan bersama semua akan bisa. Dengan bersatu pembangunan bisa diteruskan untuk Kepri semakin maju.

Konsep bersatu pun selalu diilustrasikan Isdianto dengan sapu lidi. Jika seribu batang lidi diikat dalam kesatuan, kata Isdianto, dia akan menjadi kuat dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan.

“Makanya saya selalu ajak semua untuk bersatu dan bersatu. Semuanya untuk kemajuan negeri ini,” kata Isdianto dalam berbagai kesempatan.

Tentang memperkuat persatuan memang selalu disenandungkan Isdianto. Apalagi Kepri seperti miniatur Indonesia yang semua suku bangsa dan agama ada di Negeri Segantang Lada ini. Walaupun banyak keberagamaan, semuanya tetap menjunjung kebersamaan.

Ajakan kebersamaan ini yang membuat masyarakat terus bersatu dalam keberagaman di Kepri. Isdianto pun sering menyenandungkan silaturahmi yang terus diperkuat. Sehingga saling akrab satu dan lainnya.

“Apalagi silaturahmi dari hati, bukan sekadar ucapan tanpa aksi nyata,” kata Isdianto.

Senandung silaturahmi seperti yang didendangkan H Muhammad Sani ikut dilantunkan Isdianto. Dalam senandung itu, Isdianto pun seakan menyambungkan lagi janji H Muhammad Sani yang pernah tersampaikan.

Dia tahu banyak mimpi dan keinginan abang kandungnya itu untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat disampaikan. Memakai istilah yang dipakai Sani, Isdianto berkata, “kalau tak penuh ke atas, akan penuh ke bawah.”

Isdianto seakan bertekad untuk meneruskan mimpi-mimpi H Muhammad Sani untuk menjayakan Kepri. Apalagi kini amanah itu semakin besar. “Saya tak akan berhasil kalau sendiri. Perlu dukungan dan kebersamaan semua pihak di Kepri,” kata Isdianto. (*/jpg/uma)