batampos.co.id – Kabupaten Kepulauan Anambas sudah berdiri selama 12 tahun menjadi kabupaten, namun sayangnya hingga kini belum memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Salah seorang warga Kepulauan Anambas tidak mau ditulis namanya mengungkapkan pada saat musim angin utara sering dihadapkan dengan terlambatnya pengiriman BBM, sehingga membuat masyarakat kurang nyaman untuk beraktifitas berpergian menggunakan kendaraan bermotor karena BBM terbatas.

“Terutama pada saat musim utara yaitu terjadi setiap awal tahun dan akhir tahun, namun perubahan cuaca angin kencang dan ombak laut tinggi itu dapat berubah sewaktu-waktu,” sebutnya.

Dia mengaku saat ini yang ada pedagang pengecer di pinggir jalan menjual bensin menggunakan botol volume 1,5 liter dengan harga Rp 13 ribu sampai Rp. 14 ribu.

Suasana tempat penjual eceran bahan bakar minyak (BBM) di Kecamatan Selatan, Kepulauan Anambas, yang kosong,Selasa (31/03/2020). Foto : Faidillah/batampos.co.id

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Koperasi dan UKM (Disperindag-Kop) Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) Usman, mengatakan SPBU di Anambas memang tidak ada seperti di kota-kota besar. Namun yang tersedia distributor BBM.

“Kalau kita SPBU kayak di kota-kota besar tidak ada, tetapi SPBU semacam distributor gitu, ada 3 yaitu di Landak, Air Sena dan Tanjung Momong,” kata Usman.

Pasokan BBM diperoleh dari dua unit Agen penyalur minyak solar (APMS). Mereka mengambil BBM dari depot Natuna. “Kalau BBM satu harga ada di Letung Kecamatan Jemaja, tetapi diambil dari Ranai Natuna pakai biaya, jadi susah mau satu harga,” sebutnya lagi.

Disisi lain Unit Manager Comm & CSR Pertamina MOR I, M Roby Hervindo, mengatakan dari hasil pemantauan di Kabupaten Kepulauan Anambas itu hanya ada dua BBM satu harga.

“Anambas termasuk lokasi 3T, sehingga lewat Kementerian ESDM itu dibangunnya SPBU BBM satu harga,” jelasnya saat dihubungi Batampos Oline, Senin( 27/7/2020).

Lanjut dia lagi, biasanya kalau kondisi daerah 3 T (terpencil, terdepan dan terluar) itu tidak dijadikan SPBU dikarenakan dilihat dari jumlah kebutuhannya.

Dia mengungkapkan selama ini SPBU sebagian besar dikerjakan oleh swasta. Jika pengusaha mendirikan SPBU pasti ada hitung-hitungannya karena SPBU itu sendiri memiliki profit.

“Memang tantanganya adalah kalau daerah terpencil itu melewati laut yaitu tantangan cuaca, kita sudah antisipasi solusinya, distok SPBU satu harga secara optimal, jika kondisi cuaca ombak laut tinggi tidak bisa berlayar maka stok masih tersedia,” kata Roby. (fai)