batampos.co.id – Kebutuhan air baku di Pulau Batam Provinsi Kepulauan Riau sangat tergantung dengan air hujan.

Namun dikarenakan curah hujan sudah mulai menurun, Badan Pengusahaan (BP) Batam membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berpusat di Bengkong Sadai bersama perusahaan asal Korea Selatan, Hansol.

Manajer Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, awalnya limbah domestik yang ditampung di IPAL akan langsung dibuang ke laut meski sudah memenuhi baku mutu lingkungan.

Namun, kata dia, itu urung dilakukan dikarenakan limbah domestik tersebut dapat digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan air baku.

“Jadi, nanti limbah domestik yang telah diolah di IPAL dan memenuhi standar baku mutu lingkungan akan dikembalikan ke Waduk Duriangkang,” jelasnya, Selasa (28/7/2020).

Penyaluran, kata dia, akan dilakukan melalui pipa sepanjang 9 kilometer dari IPAL di Bengkong hingga ke Waduk Duriangkang.

Selain mendapatkan sumber air baku baru, dengan adanya IPAL, akan menghasilkan pupuk kompos yang dapat digunakan untuk menghijaukan Kota Batam.

“Jumlahnya bisa 18 m3 per hari,” jelasnya.

Ia mengatakan, ke depannya air yang berada di saluran drainase, terutama di samping IPAL akan diolah dan dialirkan kembali ke Waduk Duriangkang bersamaan dengan air hasil olahan limbah domestik.

“Jadi, lumayan banyak air baku tambahan untuk masyarakat Batam, dari olahan IPAL ada (air baku) sekitar 230 liter per detik,” tuturnya.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berpusat di Bengkong Sadai yang dikerjakan BP Batam bersama perusahaan asal Korea Selatan, Hansol. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Sehingga, kata dia, akan dapat mengatasi krisis air baku di Kota Batam.

Ia melanjutkan, pembangunan IPAL pada tahap pertama dilakukan di kawasan Batam Centre dan diperkirakan selesai pada Desember 2020.

“Tujuan utama pembangunan IPAL di Batam adalah untuk menjaga waduk dari limbah domestik dan kualitas perairan pantai,” tuturnya.

Dengan adanya IPAL juga akan meningkatkan estetika lingkungan. Dengan begitu investor akan lebih tertarik menanamkan modalnya di Pulau Batam.

“Sektor pariwisata kita juga akan lebih baik karena lingkungan, drainase dan perairan atau pantai menjadi lebih bersih,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, sudah 43 perumahan yang terpasang pipa IPAL dan terhubung langsung ke pusat pengolahannya di Bengkong Sadai.

Seorang pekerja sedang mengelas pipa di kawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bengkong Sadai. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

BP Batam, kata dia, berencana akan membangun 11 ribu pipa sambungan rumah.

Dengan begitu pengolahan limbah domestik bisa lebih maksimal dan keuntungan lainnya bagi masyarakat adalah tidak perlu lagi rutin untuk menyedot septictank.

Iyus juga menegaskan, dengan adanya IPAL dapat menjaga kualitas air baku dari pencemaran limbah domestik dan mencegah menjamurnya eceng gondok di waduk.

Sementara itu Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan, BP Batam terus berupaya untuk menambah pasokan air baku di waduk-waduk di seluruh Kota Batam.

Tidak hanya melalui IPAL, BP Batam, kata dia, juga melakukan tehnologi modifikasi cuaca (TMC) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Kita ingin meningkatkan pelayanan dan keandalan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum),” jelasnya.(esa/adv)