batampos.co.id – Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai (BC) Batam, Sumarna mengatakan, BC Pusat sudah memberikan informasi adanya pergantian 4 pejabat BC Batam yang tersandung kasus korupsi importasi tekstil. Rencananya, BC Pusat mengeluarkan surat keputusan pada pekan ini.

”Dalam waktu dekat akan keluar Skepnya (surat keputusannya). Mudah-mudahan pekan ini,” ujar Sumarna, Rabu (29/7).

Empat pejabat BC Batam yang diganti di antaranya Kepala Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPU BC) Batam, Mukhammad Muklas, Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) III pada KPU BC Batam, Dedi Aldrian, Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) I pada KPU BC Batam, Hariyono Adi Wibowo, dan Kepala Seksi Pabean dan Cukai (PPC) II pada KPU BC Batam, Kamaruddin Siregar.

”Kita tunggu surat, siapa penggantinya. Untuk pelayanan sampai sekarang tidak ada gangguan,” kata Sumarna.

Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menahan keempat tersangka di Rumah Tahanan (Rutan) Kejagung, sejak 20 Juli lalu. Selain pejabat BC Batam ini, Kejagung juga menahan satu tersangka dari pihak pengusaha, yakni pemilik PT Fleming Indo Batam (FIB) dan PT Peter Garmindo Prima(PGP), Irianto pada 27 April lalu.

Sebelumnya, pada 17 Juli lalu, Kejagung juga memeriksa Kepala KPU BC Tipe B Batam, Susila Brata. Ia diperiksa bersama pejabat lainnya, yakni Kepala Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas I Jakarta, Mohamad Saptari. ”Pemeriksaan itu yang kedua, menyusul pemeriksaan pertama yang dianggap belum cukup,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum), Hari Setyono.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam perkara ini Kejagung telah menetapkan lima tersangka. Tindak pidana korupsi dalam proses importasi tekstil tersebut bermula pada 2 Maret 2020 lalu. Saat itu, Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjungpriok melakukan penegahan terhadap 27 kontainer milik dua perusahaan, yakni PT FIB dan PT PGP.

Dari 27 kontainer yang diamankan, sebanyak 10 kontainer diimpor PT PGP dengan membayar Rp 730 juta. Sedangkan 17 kontainer lainnya diimpor PT FIB dengan membayar Rp 1,09 miliar.

Keseluruhan kontainer dikirim menuju Kompleks Pergudangan Green Sedayu Bizpark, Cakung, Jakarta Timur. Namun, BC Tanjungpriok menemukan ketidaksesuaian jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 Keluar dengan isi muatan hasil pemeriksaan fisik barang. Setelah dihitung ternyata terdapat kelebihan jumlah barang.(*/jpg)