batampso.co.id – Masalah ketersediaan obat seringkali menjadi keluhan peserta kepada petugas Pemberian Informasi dan Penanganan Pengaduan (PIPP) BPJS Kesehatan. Dari mulai obat tidak tersedia hingga peserta yang harus membeli obat sendiri di luar fasilitas kesehatan.

Elvi (35) salah satu peserta BPJS Kesehatan yang ditemui Tim Jamkesnews di salah satu rumah sakit swasta di Batam pada kegiatan customer visit pada Kamis (10/7/2020) kemarin, mengaku pernah mengalami pelayanan yang tidak memuaskan lantaran obat yang tidak tersedia sehingga harus membeli sendiri.

“Kalau disini bagus, obatnya ada. Tapi saya pernah berobat ke salah satu rumah sakit, disana obatnya gak ada jadi saya cari obat sendiri,” kata Elvi.

Merasa sangat membutuhkan, Elvi emudian memutuskan untuk membeli obat sendiri. Padahal jika dilaporkan ke petugas PIPP BPJS Kesehatan, setiap peserta JKN-KIS tidak akan dibiarkan untuk mengeluarkan biaya lagi.

“Saya gak tau kalau bisa lapor, jadi saya beli aja obatnya,” kata Elvi.

Elvi (35) salah satu peserta BPJS Kesehatan yang ditemui Tim Jamkesnews di salah satu rumah sakit swasta di Batam pada kegiatan customer visit pada Kamis (10/07) kemarin. Foto; BPJS KEsehatan untuk batampso.co.id

Riama Lam Ida Rajagukguk selaku petugas PIPP BPJS Kesehatan Cabang Batam menjelaskan, ketika fasilitas kesehatan mengatakan bahwa obat tidak tersedia karena kosong, rumah sakit harus menghubungi peserta ketika obat sudah tersedia.

“Nanti peserta akan dihubungi oleh rumah sakit ketika obat sudah tersedia,” kata Riama.

Namun, hal tersebut tidak berlaku jika peserta mengalami kondisi emergency. Ketika kondisi emergency atau rawat inap obat akan dicarikan oleh tim penunjang medis di rumah sakit. Peserta dapat menunggu sampai obat tersedia hanya di saat pengobatan rawat jalan.

“Kalo urgent nanti akan diurus oleh tim di rumah sakit, kalau rawat jalan kurang urgent, peserta menunggu saja,” kata Riama.

Dulu ketika obat kosong, kebanyakan rumah sakit meminta peserta untuk membeli obat di luar, sehingga peserta harus mengeluarkan uang lagi padahal sudah membayar iuran.

Sekarang ketika obat kosong, rumah sakit diminta untuk menghubungi peserta ketika obat sudah tersedia. Hal ini menurut Riama, cukup menekan jumlah keluhan terkait obat.

“Ketika diminta membeli obat di luar, peserta beli saja, tidak lapor juga ke BPJS Kesehatan. Ujungnya ada keluhan, sekarang dengan prosedur demikian, diharapkan tidak ada lagi peserta yang membeli obat sendiri,” kata Riama.

Riama menghimbau kepada tiap peserta yang mengalami kendala ketika mendapatkan pelayanan kesehatan, untuk menyampaikan keluhannya kepada petugas PIPP di kantor cabang atau di rumah sakit ketika melakukan customer visit.

Hal ini sangat bermanfaat untuk dilakukan evaluasi, sehingga peserta juga puas mendapatkan pelayanan.(*)