Renovasi Masjid Istiqlal meliputi penataan kawasan dan pemolesan seluruh tubuh masjid sehingga lebih bersih dan bersinar. Namun, yang membuatnya benar-benar berbeda adalah sistem special lighting.

PADA Rabu malam lalu itu (22/7), di tengah selasar terbuka Masjid Istiqlal, rombongan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan para insinyur dari PT Waskita Karya berkumpul menghadap selatan ke arah menara masjid.

Seperti biasanya, jika malam tiba, hampir seluruh tubuh bangunan masjid seluas 80 ribu meter persegi tersebut bermandi cahaya lampu. Setiap permukaan penyangga, atap, dan fasad luar disinari dengan efek glow dari ratusan lampu LED berwarna putih dengan akses tungsten kekuningan.

Di antara mereka, ada programmer special lighting system Masjid Istiqlal Djoko Santoso. Dia mengambil ponsel miliknya dan memberikan perintah kepada seseorang di seberang.

”Tolong naikkan ke 7 ribu kelvin,” katanya.

Semenit, dua menit, menara Masjid Istiqlal yang sebelumnya bersinar dengan warna kekuningan perlahan berubah menjadi putih bersih. Menteri PUPR pun mengangguk-angguk puas.

Djoko belum selesai dengan pertunjukannya. ”Coba turunkan ke 3 ribu kelvin, Mas,” perintahnya ke operator lampu yang entah ada di mana.

Wajah baru kompleks Masjid Istiqlal yang renovasinya telah selesai dilakukan pada Rau (22/7). Renovasi masjid terbesar di Indonesia muai dilakukan pada Mei 2019. (Humas Kementerian PUPR for JawaPos.com)

Tak lama kemudian, warna putih tersebut perlahan berubah menjadi kuning. Sekali lagi, rombongan bergumam ria membicarakan sistem pencahayaan terbaru tersebut.

”Ini semua bisa dikendalikan dari laptop atau HP (handphone). Pakai sambungan wifi,” jelas Djoko kepada Basuki yang tampak puas dengan kinerja para arsitek dan desainer renovasi Masjid Istiqlal.

Tinggal Direktur Jenderal Cipta Karya Danis H. Sumadilaga yang belum puas dan masih ingin mencoba yang lebih ekstrem. ”Bisa warna-warni yang lain nggak? Dibikin merah, misalnya?” kata dia kepada Djoko.

Setelah gelagapan beberapa saat, Djoko pun mengangguk dan lagi-lagi menelepon operator di depan. ”Mas, tolong di-setting dengan skin 17 Agustus yang tahun kemarin,” katanya.

Konon skin tersebut mengandung setting yang bisa membuat menara Masjid Istiqlal merona merah. Agak lama menunggu warna menara hingga berubah secara gradual menjadi kemerahan. Menyaingi rona menara Monas yang ada di kejauhan.

Baru setelah menara berubah menjadi warna merah dan hadirin mulai bercekrek ria dengan HP masing-masing, Danis terlihat cukup puas. ”Kalau bisa ada temanya, warna-warna itu. Jadi, masyarakat yang lihat dari luar kalau melihat warna ini, oh, Istiqlal akan ada ini dan seterusnya,” papar Danis. Djoko mengangguk-angguk saja.

Kemampuan sistem pencahayaan dinamis Istiqlal tidak sampai di situ. Saat rombongan bergerak ke ruang salat utama, giliran 3 ribu lampu LED monocolor dan RGB+NW yang unjuk kebolehan. Sekali lagi, hanya cukup dikendalikan sebuah komputer laptop yang terhubung dengan wifi yang dipegang seorang pengurus masjid.

Saat itu warna atap masih berwarna putih. Namun, dengan beberapa kali pengaturan di laptop, warna lampu berubah menjadi kuning. Kemudian, diubah lagi menjadi biru. Berbagai setting tersedia untuk membuat cahaya lampu berubah-ubah warna. Termasuk berubah dalam tempo cepat.

Ada total 3.851 lampu yang menghiasi ruang salat utama, 300 buah lampu LED monocolor untuk pencahayaan umum, dan 40 buah LED monocolor untuk membantu pencahayaan di area bawah kubah. Juga, 19 buah untuk menghiasi mihrab serta 192 buah LED monocolor dengan cahaya natural white (NW) yang menyinari kaligrafi.

Sementara itu, warna-warni ruangan dicapai dengan 3.300 buah lampu LED dengan warna RGB+NW yang dipasang di langit-langit sekitar kubah. Meski demikian, tidak semua bagian tubuh Istiqlal bisa menjelma warna-warni.

Bangunan utama hanya dihiasi dengan nuansa cahaya putih natural white maupun kuning. Konon, lampu luar Istiqlal itu nuansanya berubah sesuai dengan siklus cahaya matahari.

Desainer lampu Istiqlal Danang Ismoyo menjelaskan kepada Jawa Pos (grup Batampos Online), pada pagi saat cahaya matahari kemerahan, lampu di dalam masjid ruangan masjid juga akan berubah kemerahan. Kemudian, bergerak semakin kuning. Menuju ke pertengahan siang, lampu juga akan perlahan berubah menjadi putih.

Demikian juga saat proses matahari tergelincir ke barat. Secara gradual, lampu akan berubah menjadi makin kekuningan hingga terbenam matahari, lalu seluruh lampu luar bangunan masjid akan menyala. ”Bahkan, kalau di luar sedang mendung gitu, matahari sedang tertutup awan, cahaya lampu akan otomatis nge-dim. Meredup,” jelas Danang.

Danang menjelaskan labih jauh, ”Prinsipnya kita masukkan cahaya matahari dari luar ke dalam ruangan. Jadi, seolah-olah lebih alami. Kita ada di luar di alam terbuka. Seperti di Masjidilharam itu kan tidak ada atap. Konsepnya seperti itu,” jelasnya.

Menurut Danang, konsep itu didasarkan pada siklus ibadah dalam agama Islam. Terutama salat lima waktu yang banyak ditandai dengan pergerakan sinar matahari.

Selain itu, cahaya utama putih dan kuning yang mendominasi seluruh bangunan disimbolkan dengan matahari (syams) dan bulan (qamar). Matahari berwarna hangat kekuningan, sedangkan warna bulan lebih sejuk dengan warna putih.

Perubahan warna lampu dengan sistem dynamic lighting itu akan berlangsung secara perlahan dan gradual. Sebagaimana cahaya matahari yang berubah secara perlahan.

Namun, sekali lagi, lampu yang berganti-ganti warna otomatis tersebut hanya berada di ruangan-ruangan penghubung, gerbang, lobi, selasar, serta fasilitas lain.

Begitu masuk ke ruang salat utama, kata Danang, akan ada perubahan dynamic lighting secara gradual ke arah lebih putih. Sampai di ruang salat utama, semuanya berubah putih. Itu bukan tanpa maksud.

”Putih berarti suci, putih bermakna Allah pemilik segala warna. Kumpulan dari warna-warna kalau dicampur jadi putih. Kita menerapkan konsep di dalam ruangan adalah warna putih,” jelas Danang.

Total daya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan lampu-lampu tersebut adalah 10 ribu watt. Namun, Danang menyebut semuanya menggunakan lampu hemat energi. Selain itu, lampu-lampu tersebut didukung dengan puluhan panel surya yang dipasang berbaris di atap selasar. Selain pasokan daya dari PLN.

Direktur Bina Penataan Bangunan PUPR Diana Kusumastuti mengatakan bahwa pihaknya berusaha agar Masjid Istiqlal pascarenovasi beroperasi seefisien mungkin. Dengan manajemen yang ramah lingkungan. Selain dengan panel surya, hal itu juga dicapai dengan menekan seminimalnya penggunaan pendingin ruangan (AC).

Hanya beberapa ruangan di lantai 1 yang didominasi perkantoran dan ruang pertemuan VIP yang dipasangi AC. Ruang salat utama murni mengandalkan sirkulasi udara untuk mendinginkan ruangan.

Dengan bantuan beberapa buah kipas. Ruangan selasar kini dihiasi dengan tanaman merambat untuk membantu meregulasi suhu. ”Saya berharap Masjid Istiqlal bisa meraih sertifikat green building kategori gold. Sedang kami ajukan,” katanya.(*/c10/ttg/jpg)