batampos.co.id – Jajaran Polsek Batuampar akhirnya mengekspos kasus pembunuhan Erwin Darlis di atas kapal atau tepatnya di kawasan PT WWE, Batuampar. Saat ekspos, polisi menunjukkan pelaku, Anak Buah Kapal (ABK) Tugboat ASL Pelican, Patanduk Tendengan.

Pria 30 tahun itu menikam rekan kerjanya. Akibat tikaman tersebut, Erwin yang menjabat Chief Officer, tewas di lokasi kejadian. Korban ditikam di bagian dada sebanyak 9 titik menggunakan pisau.

Kapolsek Batuampar, AKP Nendra Madya Tias, mengatakan, penikaman itu terjadi pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 3.50 WIB. Korban saat itu tertidur dan merasa terganggu dengan kegiatan pelaku.

“Sebelum penikaman itu terjadi, korban dan pelaku terlibat cekcok. Pelaku saat itu ribut dan tertawa dengan rekan kerja lainnya. Jadi, korban merasa terganggu,” ujar Nendra di Mapolsek Batuampar, Senin (3/8) sore.

Karena terganggu, korban mendatangi pelaku dan mengancam akan membunuh pelaku. Tak terima ancaman tersebut, pelaku menuju dapur dan mengambil sebilah pisau. “Pelaku langsung menikam korban. Kemudian membuang pisau itu ke laut,” kata Nendra.

Nendra menjelaskan, untuk mencari barang bukti pisau, pihaknya berkoordinasi dengan Sat Polair Polresta Barelang dan Polsek Wilayah Keamanan Kawasan Pelabuhan (KKP). Barang bukti tersebut diamankan di dasar laut. “Tim melakukan penyelaman hingga didapatkan barang bukti pisaunya,” kata Nendra.

Tadi malam, polisi kembali mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara. Di rumah sakit tersebut, jenazah korban disimpan dan menjalani autopsi. Pengamatan Batampos Online, pelaksanaan autopsi dimulai pukul 22.00 WIB. Di depan ruang Instalasi Forensik, puluhan rekan dan kerabat korban menunggu proses autopsi hingga dini hari.

Sementara itu, dari pengakuan Patanduk, ia nekat menikam rekan kerjanya tersebut karena sakit hati. Saat itu, korban mendatanginya dan mengancam akan membunuhnya di depan rekan kerja lainnya.

“Saya enggak mikir lagi, langsung ambil pisau dan mengejar dia. Setelah menikam saya sembunyi,” kata pria asal Sulawesi Selatan ini.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal 340 jo pasal 351 ayat 3 dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.(*/jpg/uma)