batampos.co.id – Permainan gasing adalah permainan tradisional Indonesia yang cukup populer dikalangan anak-anak maupun orang dewasa.

Di Kota Batam sendiri, permainan gasing sudah sangat akrab dan dikenal. Setiap tahun Pemko Batam juga menggelar atraksi permainan gasing pada saat Kenduri Seni Melayu (KSM).

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Muhammad Zen, mengatakan, gasing telah dikenal dikancah nasional dan internasional.

“Untuk Provinsi Kepri hampir seluruh kota dan kabupatennya memainkan gasing. Diantaranya Batam, Natuna, Karimun dan Tanjung Pinang,” jelasnya, Rabu (5/8/2020).

Namun kata dia, setiap daerah memiliki cara berbeda dalam memainkan gasing ini.

“Di Natuna permainan gasing dilakukan dengan cara diputar kemudian diletakkan di atas kaca berukuran 40 sentimeter kali 40 sentimenter dan bertandingnya siapa yang paling lama bertahan,” katanya.

Sementara di Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Karimun, gasing dimainkan dengan cara uri atau memutar gasing dengan tidak menggunakan alas langsung di tanah.

Monumen gasing yang berada di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Foto: Disbudpar Batam untuk batampos.co.id

Kemudian lanjutnya, setelah uri gasing yang berhenti duluan, gasing tersebut akan dipangkah oleh gasing lainnya.

Gasing kata dia, merupakan permainan tradisional orang Melayu sejak dahulu. Gasing terbuat dari kayu stigi yang tumbuh di batu.

“Kayu ini bertekstur keras dan cocok untuk dibuat gasing, namun kayu ini susah didapat,” tuturnya.

Kemudian diganti dengan kayu asam.

“Kayu Lebam juga bisa, biasanya digunakan untuk membuat gasing anak-anak, karena dahulu setiap mau main gasing, baru dibuat dulu gasingnya,” terangnya.

Cara membuatnya kata dia, kayu dikikis menjadi bentuk gasing. Sementara talinya, dulunya berasal dari kulit pohon Bebaru yang tumbuh di pantai.

Namun sekarang tali gasing bisa digunakan dengan tali nilon dengan panjang sekitar satu meter.

Permainanan gasing terus berkembang hingga sekarang. Gasing dibentuk bulat dan memiliki tiga bagian penting, yakni kepala, badan kemudian ujung bawa gasing.

Di bagian bawah dibuat lekukan yang berfungsi untuk tali gasing.

“Gasing memiliki beberapa bentuk, ada gasing jantung bentuknya seperti jantung pisang, gasing piring seperti bentuk piring, dan gasing berembang, gasing berukuran kecil,” jelasnya.

Agar seimbangan, gasing diberikan paksi yaitu besi yang diletakkan dibagian bawah. Sehingga ketika diputar di atas lantai atau tanah, gasing akan seimbang.

Seiring dengan perkembangan zaman, selain terbuat dari kayu kini gasing juga dibuat dengan plastik dan bahan lainnya.

Kadisbudpar Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, permainan gasing ini merupakan salah satu objek pemajuan kebudayaan melayu yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.

“Dalam Perda ini, ada 12 Objek Pemajuan Kebudayaan Melayu, salah satunya adalah permainan rakyat, seperti permainan gasing ini,” ujarnya.

Gasing kata dia, sangat populer di Kota Batam dan dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa.

“Di Kecamatan Belakang Padang bahkan terdapat lapangan gasing sebagai tempat permainan,” ujarnya.

“Kalau wisatawan mancanegara berkunjung, biasanya diajak bermain gasing di sana (Lapangan Gasing Belakang Padang),” katanya lagi.

Sebagai warisan budaya tak benda di bumi Melayu, Ardi berharap permainan gasing tetap ada dan dapat memperkuat kebudayaan melayu agar dikenal oleh masyarakat khususnya generasi muda.

“Kita upayakan untuk selalu menghadirkan atraksi gasing. Kota Batam juga sudah memiliki tugu gasing yang berada di Batam Centre,” tuturnya.(*/esa)