batampos.co.id – Angkutan udara, daging ayam ras dan kangkung menjadi komoditas utama penyumbang inflasi di Provinsi Kepri pada Juli 2020.

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Musni Hardi K.Atmaja, mengatakan, pada Juli 2020, Provinsi Kepri secara bulanan mengalami deflasi sebesar -0,11 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan Juni 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,05 persen (mtm).

Sementara itu kata dia, Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional tercatat deflasi sebesar -0,10 persen (mtm), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,18 persen (mtm).

“Secara tahunan, pada Juli 2020 Kepri mengalami deflasi sebesar -0,33 persen (yoy). Lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,24 persen (yoy) maupun inflasi Nasional sebesar 1,54 persen (yoy),” paparnya, Kamis (6/8/2020).

Ia menjelaskan, dengan perkembangan tersebut, inflasi Kepri pada Juli 2020 masih berada di bawah kisaran sasaran inflasi tahun 2020 sebesar 3 ± 1 persen (yoy).

Kata dia, deflasi di Kepri pada Juli 2020 utamanya bersumber dari penurunan harga pada kelompok transportasi serta kelompok makanan, minuman dan tembakau.

“Kelompok transportasi pada Juli 2020 tercatat mengalami deflasi -1,60 persen (mtm) dengan andil terhadap deflasi sebesar -0,20 persen (mtm),” tuturnya.

Menurutnya, komoditas utama penyumbang deflasi kelompok transportasi adalah angkutan udara yang mengalami deflasi -13,68 persen (mtm).

Dengan andil terhadap deflasi sebesar -0,20 persen (mtm), seiring dengan mulai normalnya permintaan.

ilustrasi

“Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tercatat mengalami deflasi sebesar -0,02 persen (mtm), dengan andil terhadap deflasi sebesar -0,006 persen (mtm),” paparnya.

Dimana lanjutnya, komoditas utama penyumbang deflasi yakni daging ayam ras. Penurunan harga daging ayam ras terjadi seiring lancarnya pasokan dan turunnya permintaan dari segmen hotel dan rumah makan.

Namun demikian, kata dia, deflasi Kepri pada Juli 2020 tertahan oleh inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,91 persen (mtm).

Dengan andil sebesar 0,06 persen (mtm). Adapun komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan yang mengalami inflasi sebesar 2,76 persen (mtm) seiring peningkatan harga emas di tingkat global.

“Secara spasial pada Juli 2020, Kota Batam mengalami deflasi -0,17% (mtm) dan Tanjungpinang mengalami inflasi 0,34% (mtm),” katanya.

Kata dia, komoditas utama penyumbang deflasi di Batam adalah angkutan udara, daging ayam ras, kangkung dan bawang putih.

Sementara itu, komoditas utama penyumbang inflasi di Tanjungpinang adalah angkutan udara, emas perhiasan, telur ayam ras dan cabai hijau.

Meningkatnya inflasi pada angkutan udara di Tanjungpinang terjadi seiring dengan masih terbatasnya rute penerbangan yang beroperasi.

Sedangkan peningkatan harga pada telur ayam ras didorong oleh terbatasnya pasokan akibat larangan Hatched egg.

“Secara tahunan, deflasi Kota Batam dan Tanjungpinang masing-masing tercatat sebesar -0,32 persen (yoy) dan -0,38 persen (yoy) lebih rendah dari bulan sebelumnya,” tuturnya.

Menurutnya, inflasi di Kepri pada Agustus 2020 diperkirakan masih terkendali pada kisaran yang rendah.

Namun demikian lanjutnya, terdapat beberapa potensi risiko inflasi yang perlu diwaspadai.

Antara lain:

  1. Tarif angkutan udara berpotensi meningkat seiring penerapan aturan kenaikan              sementara Tarif Batas Atas untuk mengkompensasi pembatasan kapasitas.
  2. Curah hujan yang diperkirakan meningkat,
    3. Harga emas perhiasan yang berpotensi meningkat seiring koreksi outlook ekonomi        global dari beberapa organisasi/lembaga keuangan.

“Oleh karenanya upaya pengendalian inflasi oleh TPID pada Agustus 2020 akan difokuskan pada aspek kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan sebagai antisipasi peningkatan permintaan ditengah pelonggaran aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Guna menjaga kelancaran pasokan dan ketersediaan barang, TPID Kepri akan menjalin kerjasama antar daerah sebagai langkah persiapan/antisipasi pengendalian inflasi di waktu yang datang.
“Upaya lain yakni dengan mendorong pemasaran bahan pangan secara online antara lain melalui Pasar MitraTani yang dilaunching oleh TPID Kepri, maupun Gerai Tani Online Tanjungpinang,” jelasnya.

Pemasaran secara online tersebut diharapkan dapat mengefisienkan tata niaga bahan pangan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).(*/esa)