batampos.co.id – Laju pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II 2020, anjlok. Tidak tanggung-tanggung, perekonomian terjerembab ke level minus 6,66 persen year on year (yoy). Dalam skala nasional, Kepri menempati posisi kelima dari bawah, sedangkan di Sumatera di urutan paling buncit.

Kategori yang mengalami kontraksi tertinggi adalah Jasa Lainnya (pariwisata dan turunannya) sebesar -96,11 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi tertinggi sebesar -15,45 persen.

Tak hanya itu, ekonomi Kepri triwulan II-2020 jika dibandingkan dengan triwulan I-2020 quartal to quartal (qtq) mengalami kontraksi lebih besar lagi, yakni -7,55 persen.

Dari sisi produksi, kategori yang mengalami kontraksi tertinggi juga jasa Lainnya -94,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto mengalami kontraksi sebesar -7,00 persen.

Sampai triwulan II-2020, secara cumulative to cumulative (ctc), pertumbuhan ekonomi Kepri tumbuh minus 2,32 persen dibanding nperiode yang sama tahun lalu (2019).

Dalam catatan peristiwa sepanjang triwulan kedua 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, ada banyak faktor yang menyebabkan perekonomian Kepri terjun bebas. Tapi sebab utamanya karena pandemi Covid-19.

Pertama, sepanjang triwulan II terjadi pembatasan aktivitas seperti penerapan sistem kerja dan sekolah dari rumah, penutupan sementara hotel, tempat wisata dan hiburan, serta usaha jasa lainnya.

Kemudian pembatasan frekuensi penerbangan dan kapal feri penyeberangan dan penyesuaian jumlah tenaga kerja di berbagai jenis kegiatan usaha, terutama industri.

”Selanjutnya, perekonomian global pada Q2/2020 menunjukkan penurunan tajam, hampir semua rekan dagang Kepri mengalami kontraksi yang cukup tajam pada triwulan kedua 2020 kecuali Tiongkok yang mampu tumbuh positif 3,2 persen,” kata Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo, Rabu (5/8).

Kondisi tersebut diperparah dengan turunnya sebagian besar harga komoditas internasional karena penurunan permintaan domestik dan eksternal. Contohnya, harga minyak dunia pada April lalu sempat turun sampai level terendah sejak 2009.

”Lalu, terkontraksinya kategori industri pengolahan secara umum dibandingkan triwulan I 2020 disebabkan melemahnya permintaan luar negeri sebagai akibat dari pandemi di negara-negara tujuan ekspor. Namun demikian, saat ini kinerjanya sedikit mengalami peningkatan,” tuturnya.

Berikutnya, terdapat penurunan data realisasi pengadaan semen yang cukup signifikan dibanding tahun lalu. Selain itu ada penundaan beberapa proyek fisik yang seharusnya dimulai di triwulan II, karena pandemi.

”Terjadi juga penurunan permintaan ekspor minyak mentah imbas dari penurunan aktivitas transportasi darat, laut, dan udara,” jelasnya.
Begitu juga dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang mengalami penurunan di triwulan II yakni sebesar 99,30 persen. Sementara itu, ekspor luar negeri Januari ke Juni mengalami penurunan sebesar minus 6,60 persen dibandingkan periode yang sama di 2019. Penurunan tersebut disebabkan oleh ekspor migas yang turun tajam sebesar minus 38,92 persen.

”Dan terjadi penurunan konsumsi rumah tangga sebagai akibat dari berkurang nya sumber pendapatan karena pemutusan hubungan kerja dan dirumahkannya pegawai,” paparnya.(*/jpg)