batampos.co.id – Pandemi Covid-19 telah membatasi mobilitas manusia, pergerakan barang dan jasa, serta uang. Dampaknya sangat luar biasa.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, dengan adanya pembatasan aktivitas sosial ekonomi, maka kegiatan konsumsi, investasi, serta ekspor-impor di semua negara mengalami penurunan sangat tajam.

Pertumbuhan ekonomi dipastikan negatif. “Resesi kemudian menjadi sebuah kenormalan baru. Semua negara diyakini tinggal menunggu waktunya saja untuk menyatakan secara resmi sudah mengalami resesi,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8).

Menurutnya, proses resesi ini sudah terlihat sejak mewabahnya Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, ke berbagai negara. Semua negara berpotensi mengalami resesi. “Perbedaannya hanya masalah kedalaman dan kecepatan recovery,” katanya.

Itu tergantung dari mana sumber pertumbuhan ekonomi negara tersebut berasal. Singapura misalnya, yang pertumbuhan ekonominya sangat tergantung pada kegiatan ekspor.

Pada kuartal-II 2020 pertumbuhan ekonomi Singapura amblas hingga negatif 41 persen. Negara-negara lain yang lamban merespons pandemi ini, kata Pitter, juga berpotensi jatuh ke jurang krisis. Artinya, proses recovery akan berjalan lambat.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

“Sebagaimana negara lain, Indonesia diperkirakan akan mengalami resesi,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi RI kuartal-II yang mengalami kontraksi 5,32 persen. Pitter melihat, kontraksi pertumbuhan ekonomi masih akan berlanjut pada kuartal-III dan kuartal-IV.

“Apabila perkiraan ini benar-benar terjadi, maka Indonesia pada bulan Oktober nanti akan secara resmi dinyatakan resesi.

Meskipun Indonesia nanti dinyatakan resesi, masyarakat tidak perlu panik. Sekali lagi resesi sudah menjadi sebuah kenormalan baru di tengah wabah. “Hampir semua negara mengalami resesi,” lanjut Pitter.

Yang lebih penting adalah bagaimana dunia usaha bisa bertahan di tengah resesi. Apabila dunia usaha bisa bertahan, tidak mengalami kebangkrutan, maka Indonesia akan bisa bangkit kembali dengan cepat ketika wabah sudah berlalu.

“Kita optimistis dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah melalui program PEN, kita akan bisa meningkatkan daya tahan dunia usaha kita, dan kita akan recovery pada tahun 2021,” pungkas Pitter.(jpg)