batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam menggunakan teknologi bakteri untuk mengolah limbah domestik yang dialirkan dari rumah-rumah warga ke pusat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bengkong Sadai, Kota Batam.

Manajer Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, luas lahan IPAL di Bengkong Sadai mencapai 7 hektar.

“IPAL ini akan digunakan untuk mengolah air limbah 230 liter/detik,” jelasnya, Rabu (12/8/2020).

Saat ini kata dia, selain terdapat kantor administrasi di lokasi tersebut juga terdapat bangunan Food Change Reactor (FCR).

FCR lanjutnya, merupakan inti dari pengolahan limbah domestik dengan menggunakan teknologi bakteri yang disimpan dalam rumah bakteri dengan kedalaman sekitar 5,5 meter.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berpusat di Bengkong Sadai dan dikerjakan BP Batam bersama perusahaan asal Korea Selatan, Hansol. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Kata dia, FCR adalah otak pengolahan limbah domestik di Kota Batam. Menurutnya, untuk mengalirkan limbah domestik ke IPAL di Bengkong Sadai saat ini sudah terbangun pipa IPAL di 43 perumahan di Kota Batam.

“Kita berencana membangun 11 ribu sambungan rumah,” jelasnya.

Sebelum masuk ke IPAL di Bengkong Sadai, limbah domestik ditampung di empat stasiun pompa.

Fungsi stasiun pompa adalah untuk mengumpulkan limbah-limbah dari rumah warga secara gravitasi dan disaring dari sampah dan sedimen.

“Sehingga limbah domestik yang masuk ke IPAL adalah limbah cair,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dari hasil pengolahan IPAL akan diperolah pupuk siap pakai yang diolah di slug composting. Kemudian dimasukkan di ruang deodorys untuk menghilangkan bau.

“setelah itu dikompres untuk jadi pupuk dan bisa menghasilkan 18m3 pupuk siap pakai/hari yang bisa digunakan untuk menghijaukan Kota Batam,” paparnya.(esa)