batampos.co.id – Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) semester pertama di Kota Batam naik dibanding realisasi PMDN di periode yang sama tahun 2019.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Batam,
Firmansyah, mengatakan, nilainya mencapai Rp 4,5 trilun.

“Di semester satu tahun lalu hanya Rp 2 triliun. Realisasi investasi yang paling besar terjadi di sektor pertambangan, nilainya mencapai Rp 2,5 triliun dengan jumlah lima proyek,” jelasnya dilansir dari Harian Batam Pos, Jumat (14/8/2020).

Kemudian lanjutnya, disusul investasi di bidang perumahan, kawasan industri, dan perkantoran. Nilainya mencapai Rp 1,7 triliun.

”Kalau di tahun lalu, realisasi industri itu (pertambangan serta perumahan, dan kawasan
industri, red) bukan di urutan teratas. Malah industri kimia dan farmasi yang besar di tahun lalu,” katanya.

Sementara di urutan selanjutnya adalah realisasi di bidang perdagangan dan reparasi
senilai Rp 96,3 miliar dengan 180 proyek.

Kemudian investasi bidang listrik, gas, dan air sebesar Rp 56,5 miliar dengan jumlah empat proyek.

Selanjutnya, ada industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain dengan nilai
investasi Rp 36,4 miliar dengan delapan proyek.

Klinik berusaha yang ada di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Batam. Foto diambil beberapa waktu lalu. foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Kemudian realisasi investasi di bidang hotel dan restoran Rp 16,1 miliar dengan 25 proyek. Selain itu, juga ada realisasi industri kimia dan farmasi Rp 3,9 miliar dengan 25 proyek.

Investasi di bidang transportasi gudang dan telekomunikasi Rp 2,5 miliar dengan 29 proyek. Sementara industri lainnya nilainya sebesar Rp 1,4 miliar.

”Ada beberapa investasi yang bernilai kecil lainnya, seperti dari bidang jasa, percetakan,
dan beberapa industri lainnya. Total proyek yang dilaporkan ke kita (DPM-PTSP Batam, red) semester ini adalah 419 proyek,” sebutnya.

Sementara itu, di semester 1 tahun lalu, jumlah proyek hanya 156 proyek dengan total
nilai realisasi investasi sebesar Rp 2 triliun.

Urutan lima teratas investasi di tahun lalu, yakni industri kimia dan farmasi enam proyek dengan nilai Rp 860 miliar.

Kemudian, realisasi investasi di bidang transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak lima proyek dengan nilai investasi Rp 659 miliar.

Di urutan ketiga, investasi bidang industri mineral nonlogam sebanyak empat proyek dengan nilai Rp 154 miliar.

Kemudian ada industri bidang perdagangan dan reparasi dengan proyek sebanyak 53 unit dengan nilai investasi Rp 106 miliar.

Sedangkan di urutan kelima, bidang industri kendaraan bermotor dan alat trasnportasi lain dengan tujuh proyek. Nilai investasinya Rp 91 miliar.

Firmansyah mengatakan, data realisasi investasi ini didapatkan dari kepatuhan pelaporan investasi dari para pemilik modal. Dimana banyak pemilik modal yang sudah ada melakukan pengembangan usaha.

”Jadi, ini dari pelaporan yang ada di Batam. Kepatuhan merekalah yang menentukan nilai PMDN ini. Misalnya ada pengembangan usaha Rp 100 juta tetap harus dilaporkan,” katanya.

Pelaporan investasi ini juga berkat pengawasan yang terus menerus dilakukan DPM-PTSP Batam. Termasuk pendampingan dalam hal investasi.

”Kita rutin melakukan pengawasan dan pendampingan. Kalau di semester depan, kita mungkin akan melihat perubahan karena pandemi Covid-19 yang terjadi,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Batam, Harmidi, Pemko Batam terus menggenjot investasi di Batam.

Salah satunya adalah pemangkasan dan kemudahan perizinan dan birokrasi.

”Dalam berusaha dan berinvestasi, birokrasi hal yang mutlak. Kemudahan berinvestasi harus diciptakan. Jangan ada perizinan yang sulit. Apalagi masalah investasi. Investasi semakin banyak, maka ekonomi akan tumbuh,” tuturnya.

Menurut Harmidi, selama ini banyak warga yang meminta kemudahan dalam perizinan. Apalagi dengan adanya Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Batam, maka seharusnya keluhan masyarakat akan teratasi.

”Tugas kita bersama bagaimana meningkatkan investasi di Batam untuk perekonomian yang lebih baik,” imbuhnya.(jpg)