batampos.co.id – Ex Camp Vietnam yang berada di Desa Sijantung, Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau menjadi bukti sejarah sisi kemanusian di Indonesia.

Lokasi itupun kini menjadi salah satu objek wisata andalan untuk mengaet wisatawan lokal maupun mancanegara saat berkunjung ke Kota Batam.

Kepala Museum Camp Vietnam, Zaid Adnan, menceritakan, lokasi tersebut diresmikan pada 1979.

Pembangunan camp tersebut lanjutnya didanai Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan pengungsi yaitu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden RI ke-2, Soeharto.

“Sebelum di sini (Galang,red) para pengungsi ditampung di camp yang berada di Natuna pada 22 Mei 1975,” jelasnya, Minggu (16/8/2020).

Ia menjelaskan, saat itu ada sekitar 75 warga Vietnam yang bersandar di Natuna. Berdasarkan keterangan para pengungsi, lanjutnya, mereka kabur dari negaranya karena telah terjadi perang saudara serta ingin mencari kehidupan baru.

Kata dia, para pengungsi itu mengarungi Laut Cina Selatan selama berbulan-bulan sebelum kapalnya bersandar di Natuna.

“Mereka dikenal sebagai manusia perahu,” jelasnya.

Kepala Museum di Ex Camp Vietnam, Zaid Adnan, menjelaskan kepada salah seorang pengunjung Eks Camp Vietnam, Fahril, terkait sejarah para pengungsi dari Vietnam atau yang dikenal dengan sebutan manusia perahu. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Kata dia, para pengungsi tersebut menjelaskan mereka lari hanya menggunakan perahu kayu berukuran 7×2 meter dan terombang-ambing di lautan lepas selama berbulan-bulan.

Bahkan kata dia, kerabat dari pengungsi tersebut meninggal dunia sebelum bersandar. Jasadnyapun langsung dibuang ke laut.

“Kata mereka ada ribuan kapal warga Vietnam tenggelam karena dihantam ombak tinggi,” tuturnya.

Menurutnya, pada tahun 1979 jumlah pengungsi Vietnam sudah mencapai 30 ribuan orang. Karena sudah sangat banyak akhirnya dibangunlah camp di Desa Sijantung, Galang, Kota Batam.

“Camp ini luasnya 80 hektar dan didalamnya saat itu seluruh fasilitas seperti pelabuhan, jalan, rumah pengungsi, rumah petugas, gedung olahraga, rumah ibadah, air, listrik disedikan dan sembakopun disuplai oleh PBB,” tuturnya.

Menurutnya pemilihan Galang sebagai camp kedua setelah di Natuna, karena lokasinya masih berupa pulau kosong dan hanya ada sedikit penduduk.

Selain itu lokasi Galang saat itu dinilai sangat strategis karena berada di antara dua negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia.

“Pada 1980 camp ini langsung dibuka atas dasar kemanusiaan dan seluruh pengungsi Vietnam yang berada di Tanjung Pinang, Riau dan Natuna dibawa ke Pulau Galang,” paparnya.

Menurutnya di lokasi tersebut, para pengungsi mendapatkan pengawasan ketat dari aparat keamanan. Bahkan di dalamnya terdapat penjara bagi pengungsi yang melakukan perbuatan kriminal.

Kata dia para pengungsi berada di camp tersebut kurang lebih 16 tahun. Terhitung dari 1 Januari 1980 hingga 3 September 1996. Total jumlahnya pengungsi saat itu sekitar 250 ribu orang.

Saat ini kata di banyak situs-situs yang masih dapat dilihat di Ex Camp Vietnam. Mulai dari rumah ibadah, gedung pertemuan hingga pemakaman.

“Ada sekitar 530-an lebih makam dan lokasi ini sekarang menjadi objek wisata kemanusian,” ujarnya.

Kata dia, saat berada di camp para pengungsi mendapatkan pelatihan. Seperti kursus bahasa Inggris, Jerman dan Prancis. Hal ini dilakukan agar bisa beradaptasi di negara ketiga.

Adnan mengatakan, para pengungsi yang sekarang sudah hidup di negara ketiga atau dikembalikan ke negeranya, juga kerap berkunjung ke lokasi tersebut untuk bernostalgia.(esa/adv)