batampos.co.id – Kasus kekerasan yang dilakukan sejumlah anggotanya terus mencoreng wajah Polri tiap tahun. Dari tahun ke tahun, lewat beragam bentuk.

Belum lama berselang, Hendri Alfreet Bakari alias Otong, seorang warga Batam, Kepulauan Riau, meninggal dan kepalanya dibungkus plastik. Otong tewas setelah ditangkap dalam kasus narkotika oleh Polres Balerang, Kepulauan Riau.

Terkait kekerasan itu, Kadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono angkat bicara. Menurut dia, kasus dugaan penganiayaan itu sedang ditangani Polda Kepulauan Riau. Posisinya masih menunggu hasil otopsi. ”Ditangani (Polda) Kepri ya,” katanya.

Pada 2018, masyarakat mengelus dada melihat video anggota polisi memukuli wanita di sebuah minimarket. Meski perempuan itu sudah meminta ampun, tendangan dari anggota tetap saja mendarat ke badannya.

Belakangan, barulah diketahui pelaku kekerasan itu adalah AKBP Yusuf yang merupakan pemilik minimarket. Dia berdinas di Ditpamobvit Polda Bangka Belitung. Dia akhirnya dicopot dari jabatannya dan dimutasi.

Lalu, pada awal 2019 muncul video kekerasan dari Polres Jayawijaya, Papua. Seorang tersangka yang sedang diinterogasi diikat tangannya ke belakang dan duduk di sebuah kursi. Lantas, seorang anggota polisi membawa ular dan menyodorkannya untuk menakut-nakuti. Ular itu juga dikalungkan ke leher tersangka.

Di pengujung 2019, kasus Lutfi yang membawa bendera dalam aksi demonstrasi menolak revisi KUHP menyedot perhatian. Dalam interogasi di Polres Jakarta Barat, Lutfi mengaku dipukuli dan disetrum.

Dugaan kekerasan oleh oknum personel Polri menjadi salah satu catatan KontraS. Setiap tahun banyak temuan yang mereka rangkum. Terakhir medio Juni 2019 sampai Mei 2020. Data yang diperoleh Jawa Pos (grup Batampos Online) menyebut ada 62 dugaan kekerasan. Sebagian besar kasus itu diduga melibatkan aparat kepolisian.

Kepala Divisi Pembelaan Hak Asasi Manusia KontraS Arif Nur Fikri menyampaikan, data tersebut masuk dalam laporan tahunan yang dibikin KontraS. Dari 62 dugaan kekerasan, 48 kasus disebut KontraS melibatkan oknum personel Polri. Sembilan kasus lain diduga melibatkan prajurit TNI dan lima kasus ditengarai menyeret sipir.

Dua bulan belakangan, dugaan kekerasan muncul di Sumatera. Yakni, kasus yang menimpa Sarpan di Deli Serdang, Sumatera Utara, serta Hendri Alfreet Bakari di Batam, Kepulauan Riau. Dua kasus itu tidak masuk dalam laporan tahunan yang dikeluarkan KontraS. Sebab, kasus tersebut terjadi pada Juli dan Agustus tahun ini.

Sementara itu, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Awi Setiyono tidak merespons telepon dan pesan singkat Jawa Pos yang mengonfirmasi soal budaya kekerasan di Polri.

Di sisi lain, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat, rata-rata laporan dugaan kekerasan melibatkan personel Polri yang mereka terima sebanyak 20 kasus per tahun. ”Tindakan kekerasan oleh (oknum) anggota Polri di level lapangan itu lumayan banyak yang diadukan ke Komnas HAM,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Amiruddin Al Rahab kepada Jawa Pos.

Menyikapi banyaknya aduan tersebut, Komnas HAM sudah memberikan masukan. Amiruddin menyatakan, masukan itu disampaikan setiap tahun. ”Itu selalu kami sampaikan kepada pimpinan Polri,” katanya.(*/jpg)