batampos.co.id – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid menyebut tahun lalu atau sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, setiap bulan Agustus di tengah masyarakat terjadi kesemarakan. Di berbagai jalan, gang, dan setiap rumah dipasang bendera merah putih.

Hampir semua warga dari berbagai kalangan, saling bergotong royong mempersiapkan diri mengadakan berbagai lomba dan karnaval yang meriah. “Semua dilakukan sebagai wujud syukur atas kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945,” ujar politikus PKB yang akrab disapa Gus Jazil itu di Jakarta, (16/8).

Pada Agustus 2020, pandemi Covid-19 masih mengungkung beberapa wilayah dan kota di Indonesia. Sehingga kemeriahan yang ada setiap bulan Agustus bisa saja tidak terjadi di wilayah dan daerah yang masih masuk zona merah.

“Meski demikian jangan sampai semangat kemerdekaan kita berkurang sedikitpun. Kita harus tetap semangat dalam kondisi apapun,” tambahnya.

Jazilul juga menggambarkan bagaimana dulu para pahlawan berkorban dalam suasana yang juga membahayakan diri dan keluarganya namun mereka tetap bersemangat dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Karena dalam Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia ini, kata Jazilul, sebenarnya ada tiga tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ketiga tantangan itu adalah, pertama, darurat kesehatan. Dalam masa pandemi semua tidak tahu kapan wabah ini berakhir. “Saat ini dunia menunggu vaksin,” ungkapnya.

Kedua, masalah perekonomian. Kata Gus Jazil, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menangani masalah itu. Kemudian, ketiga, persoalan yang tidak boleh dilupakan adalah dunia pendidikan.

“Saya menyebut pemerintah kurang peduli dalam masalah pendidikan dibanding dengan masalah kesehatan dan ekonomi,” ujarnya.

Dalam masa pandemi diakui siswa sekolah menempuh Pembelajaran Jarak Jauh, PJJ. Namun seberapa efektif cara itu. Dirinya mengandaikan Indonesia bisa pulih dan tumbuh perekonomiannya namun bagaimana bila ekonomi membaik namun generasi yang ada tidak mendapat pendidikan yang memadai.

“Kita ingin menjadi bangsa yang kuat ekonomi, otak cerdas, dan berbadan sehat,” tegasnya.

Jazilul mengakui, ketiga hal tersebut dialami oleh banyak negara dan mereka sekarang sedang mencari metoda khusus untuk menangani. Dalam bidang kesehatan dan perekonomian pemerintah sudah jelas kebijakannya namun dalam dunia pendidikan, belum melihat secara nyata.

“Semua diserahkan hanya pda PJJ. Sedangkan PJJ yang ada dikatakan hanya diikuti 30 persen dari 86 juta peserta dididk. Artinya, Indonesia darurat pendidikan,” sebutnya.

Selama satu semester sudah tidak ada pendidikan. Hal yang demikian menurutnya perlu diambil sikap, tindakan, dan kebijakan. Karena, semuanya tidak tahu kapan pandemi berakhir. “Kalau selama satu tahun dunia pendidikan tutup dalam arti tidak ada kebijakan baru, tidak ada metode baru, tentu akan ada masalah buat anak didik kita ke depan,” ujarnya.

Karena itu, Jazilul berharap pemerintah bisa diharapkan melakukan langkah-langkah penting dalam dunia pendidikan. Termasuk perlu ada kurikulum baru masa pandemi ini.

“Saya mengingatkan kepada pemetintah jangan abai kepada sektor pendidikan. Sebab, tidak sedikit juga guru yang belum akrab dengan gadget dan murid yang memiliki gadget,” ungkapnya.(jpg)