batampos.co.id – Area Bandara Internasional Hang Nadim menjadi salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

KEK di kawasan Hang Nadim diharapkan dapat mempercepat pencapaian pembangunan dan sebagai pertumbuhan ekonomi di Kota Batam, serta dapat berkontribusi untuk pembangunan ekonomi nasional.

Kepala Pusat Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam dan KEK, Endry Abzan, mengatakan, KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan dan geostrategis.

Pemerintah Pusat, lanjutnya, telah menyetujui dua KEK di Batam, yaitu Nongsa Digital Park (NDP) dan Maintenance Repair Overhaul (MRO) Batam Aero Technic.

Bahkan, kata dia, Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan berbagai persiapan menuju dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru di Batam, yaitu KEK Aero City Bandara Hang Nadim dan KEK Kesehatan di RSBP Batam.

Sejumlah mekanik sedang melakukan pengecekan pesawat Lion Air di Hanggar Lion Bandara Hang Nadim Batam. Foto diambil beberapa waktu lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Ia menjelaskan, regulasi pembentukan KEK berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang KEK.

“Kemudian ada turunan dari Undang-Undang Nomor 39 tahun 2009 tentang KEK, yaitu PP (Peraturan Pemerintah) tentang penyelenggaraan KEK,” katanya, Senin (17/8/2020).

Ia melanjutkan, fasilitas dan kemudahan KEK diatur dalam PP terbaru, yaitu PP Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Fasilitas dan Kemudahan KEK

“Berdasarkan PP Nomor 12 tahun 2020, di dalam pasal 2, disebutkan fasilitas dan kemudahan KEK meliputi perpajakan, kepabeanan, dan cukai,” jelasnya.

Kemudian tentang Lalu Lintas Barang, Ketenagakerjaan, Keimigrasian, Pertanahan dan Tata Ruang, Perizinan Berusaha dan Fasilitas Kemudahan Lainnya.

“Dasarnya KEK adalah ada fasilitas dan menambah fasilitas yang sudah ada dari sebelumnya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, KEK merupakan nadi baru bagi ekonomi Batam.

Kata dia, saat ini di kawasan Hang Nadim telah diresmikan satu KEK, yaitu KEK MRO BAT yang akan menyerap 9.976 orang hingga tahun 2025.

“Nilai investasinya Rp6,2 triliun hingga tahun 2030,” tuturnya.(esa/adv)