batampos.co.id – HL pedagang Tos 3000 yang sempat melakukan perlawanan saat akan dievakuasi ke RSKI Galang dinyatakan positif Covid-19.

Hal ini diutarakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi.

“Iya positif,” ujarnya, Rabu (26/8/2020).

Ia menjelaskan, dari hasil pemeriksaan diketahui hanya HL saja yang positif Covid-19. Sementara keduanya anaknya negatif.

HL sempat marah-marah saat akan dibawa petugas ke RSKI Galang saat dijemput Komplek Trikarsa Ekualita, Sungai Panas, Batam Kota, Senin (24/8/2020).

HL merupakan kerabat dan jamaat gereja berkaitan erat pasien yang merupakan pendeta dan dinyatakan meninggal dunia dan positif corona Covid-19 pada 19 Agustus 2020 lalu.

Sebelumnya, terkait warga kontak erat dengan pasien Covid-19 yang menolak dikarantina bahkan sempat kabur, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam mengambil tindakan tegas.

Salah satunya, Hertina Linda, warga yang kontak erat dengan pasien Covid-19 nomor 433 di Tiban, Sekupang. Hertina sempat membalurkan air liur jenazah Covid-19 ini ke wajahnya karena tak yakin penyebab kematiannya akibat Covid-19.

”Kami sudah amankan (Hertina Linda, red) secara protokol Covid-19, Senin (24/8),” kata kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi, kemarin.

Didi mengungkapkan, Linda diangkut oleh tim medis ketika berada di salah satu klinik. Ia berencana akan melakukan rapid test karena sudah kontak langsung dengan jenazah pasien Covid-19 nomor 433.

”Dibawa menggunakan ambulans Puskesmas Lubukbaja. Sempat menolak dibawa, namun petugas berupaya agar dia dan anaknya mau dibawa ke RSKI Galang untuk menjalani karantina,” ungkapnya.

Soal video penjemputan paksa anak Linda di Perumahan Marcelia, Didi menjelaskan evakuasi paksa dilakukan karena yang bersangkutan menolak dievakuasi untuk karantina di RSKI Galang.

Bahkan, saat akan dibawa ke RSKI Galang, sempat meronta-ronta dan menolak untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulans. ”Kalau kita sesuai aturan saja. Mereka yang tidak patuh tentu harus ada tindakan tegas, agar bisa memberikan efek jera kepada semua masyarakat terhadap penanganan semua orang yang berhubungan langsung dengan Covid ini,” terangnya.

Didi menambahkan, tujuan Tim Gugus Tugas Covid-19 melakukan ini adalah dalam rangka melindungi masyarakat Batam agar tidak tertular virus corona. Ini merupakan langkah antisipasi pemerintah setempat untuk memutuskan mata rantai wabah ini.

”Ibu dan dua anaknya itu masuk kategori kontak erat dengan pasien 433. Sudah beberapa hari ini kita cari, sebelumnya kami sudah data tapi dia tidak mau ikut bersama warga yang kontak erat lainnya. Baru kemarin (24/8, red) dapat kesempatan yang tepat,” jelasnya. (esa/jpg)