batampos.co.id – Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maintenance Repair and Overhaul (MRO) di Bandara Hang Nadim, Batam Aero Technic (BAT) sudah mengajukan sejumlah usulan insentif kepada pemerintah pusat agar bisa diterapkan di KEK tersebut.

Manajer Ekspor Impor BAT, Fredy Supriyadi, mengatakan, sejumlah usulan utama yakni terkait percepatan custom clearance spare part pesawat dari luar negeri dan peniadaan pajak penghasilan pertambahan nilai (PPn) sebesar 10 persen ketika spare part dari domestik masuk ke Batam.

”Kami mengusulkan agar diterapkan secara nasional. MRO itu bisnis aviasi. Bea masuk atas spare part suku cadang juga kami minta dibuat nol persen,” katnaya, Selasa (25/8/2020) seperti yang dilansir dari Harian Batam Pos.

“Sebabnya, karakteristik spare part (suku cadang, red) pesawat berbeda dengan spare part kendaraan lainnya,” kata dia lagi.

Fredy mengungkapkan, 95 persen suku cadang masih diimpor dari luar negeri, kebanyakan melewati Jakarta sehingga dikenakan bea masuk saat ke Batam.

Teknisi MRO BAT Lion Air melakukan sedang perawatan berkala pada salah satu pesawat Lion Air Group. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Indonesia sendiri belum memiliki industri yang membuat komponen-komponen pesawat semodel Airbus atau Boeing.

”Kalau sudah ada di dalam negeri, maka akan lebih tenang, karena tak perlu hilang ongkos. Di luar negeri, bea masuk itu ditiadakan sehinga jadi lebih kompetitif. Cocok diterapkan karena dapat mendukung industri dirgantara di Indonesia,” ucapnya.

Lalu percepatan administrasi khususnya untuk barang modal tidak baru.

”Ada juga barang spare part yang bisa diperbaiki di luar negeri, kemudian balik ke Batam. Nah, itu perlu laporan surveyor dan harus dilakukan di luar negeri,” tuturnya.

“Laporannya memakan waktu karena butuh tujuh hingga 10 hari kerja,” katanya lagi.

Sejauh ini, BAT telah memiliki sertifikasi dari dalam negeri serta Federal Administration Aviation (FAA). BAT juga telah memperoleh persetujuan dari sejumlah negara.

Seperti Thailand dan Malaysia, sehingga memungkinkan BAT melakukan perawatan pada maskapai negara tersebut. Namun sejauh ini, proses perawatan masih berfokus pada maskapai yang tergabung dalam Lion Group.

Workshop MRO Hang Nadim sendiri terdiri dari landing gear shop, propeller shop, gas shop, serta emergency equipment shop.

Ke depannya, BAT menargetkan pasar Asia Selatan, Asia Tenggara, serta Timur Tengah.(jpg)