batampos.co.id – Pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam lima tahun mendatang. Namun, pembangunan tersebut menghadapi berbagai tantangan, di antaranya yaitu tingginya angka perokok aktif di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, permasalahan konsumsi rokok menjadi jebakan yang terjadi di semua tahapan pembangunan manusia Indonesia.

Bahkan, menurutnya persoalan perokok ini bukan hanya berdampak pada permasalahan kesehatan dan ekonomi pada orang dewasa. Tetapi yang paling krusial, dampak buruk yang bisa terjadi adalah persoalan gagal tumbuh atau stunting pada usia anak-anak.

“Orang tua perokok itu punya dampak yang sangat serius terhadap janin yang ada dalam kandungan seorang ibu. Baik itu ibu perokok atau suami perokok. Atau si ibu tidak merokok tapi menjadi perokok pasif. Dan itu akan memengaruhi janin yang ada di dalam kandungan,” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).

Pemerintah saat ini mewaspadai praktik merokok di dalam keluarga untuk mencegah dampak stunting pada anak-anak. Apalagi, kata dia, saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) berfokus pada penanganan stunting dengan angka sebesar 27,67 persen yang pada tahun 2024 ditargetkan di bawah 14 persen.

“Karena itu, kita mewaspadai praktik merokok dalam keluarga. Ini harus dilakukan karena stunting ini memiliki andil yang sangat besar dan menjadi faktor hambatan utama terhadap pembangunan manusia indonesia. Bahkan sekitar 54 persen angkatan kerja indonesia yang jumlahnya 136 juta itu 54 persen pernah stunting, terutama pada masa 1.000 hari kehidupan,” tambahnya.

Kemudian, Peneliti Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) Teguh Dartanto menyampaikan hasil penelitiannya, bahwa prevalensi perokok pada kategori anak di Indonesia menjadi soal yang cukup pelik saat ini. Menurut dia, hal itu di karenakan beberapa hal, yaitu faktor harga rokok yang cukup murah, dan faktor teman sebaya

Kenaikan harga rokok, menurut Teguh, adalah kunci untuk menekan angka perokok pada anak dan remaja. Selain itu perlu ada pendekatan perilaku sebafai upaya pencegahan perilaku anak, seperti sosialisasi bahaya rokok dan kampanye anti rokok.

Menanggapi hasil penelitian, Menko Muhadjir mengatakan, pemerintah akan melakukan kebijakan sebaik mungkin untuk mengatasi kasus perokok anak dan remaja. “Saya yakin kementerian terkait telah membuat kebijakan-kebijakan dalam rangka kita untuk mengurangi jangan sampai anak terjangkit rokok sejak dini,” pungkas dia.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah juga tengah mengkaji kenaikan tarif bea cukai rokok. Rencananya pengumuman hasilnya akan dipublikasikan pada akhir September atau awal Oktober 2020.(jpg)