batampos.co.id – Dokter Spesialis Anak senior dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, Sp.A(K) meninggal dunia akibat positif Covid-19. Kabar duka itu menambah deretan panjang jumlah dokter dan tenaga medis yang meninggal akibat virus Korona.

Semasa hidupnya, dr. Nastiti dikenal sebagai tokoh respurologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Almarhumah cukup gencar memperjuangkan nasib anak yang terpapar Tuberkulosis (TB).

“Beliau ternasuk tokoh respirologi anak. Tokoh paru anak. Beliau cukup gencar perjuangkan berantas TBC anak di Indonesia,” kata Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Minggu (30/8).

“Kemarin waktu tazkiah disampaikan bahwa beliau adalah ibunya TBC anak Indonesia. Kerja sama di lintas internasional juga sudah banyak kiprahnya,” tegas dr. Ari.

Jika ditotal, khusus untuk para dokter yang berasal dari FKUI dan meninggal akibat Covid-19, jumlahnya di bawah 10 orang. Dokter Nastiti menjadi salah satu kelompok rentan karena usianya yang sudah sepuh.

“Memang karena sudah umur juga ya beliau. Tentu komorbid itu seperti lansia, obesitas, diabetes, dan trennya banyak terjadi pada pria. Ink kelompok rentan,” kata dr. Ari.

Sementara itu pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) belum merespons saat dihubungi JawaPos.com (grup Batampos Oinline) terkait hal ini. Dokter Nastiti juga menjabat sebagai Ketua IDI Jakarta Pusat.

Dokter dan Tenaga Medis Gugur

Sebagai sesama dokter, dirinya prihatin para dokter gugur akibat Covid-19. Dan rata-rata tertular kareka berbagai faktor dari mulai komorbid, tertular dari pasien, hingga terinfeksi karena berjuang di garda terdepan.

“Kami kan juga antisipasi ya. Bahwa kami tak menenafikan ada juga dokter-dokter yang kena. Yang meninggal memang umumnya karena kondisinya fatal disertai komorbid, atau obesitas,” jelasnya.

Namun, dr. Ari kecewa dengan pernyataan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang mengungkapkan bahwa tenaga medis banyak tertular karena tak disiplin dengan protokol kesehatan. Menurut dr. Ari tak bisa juga dikatakan abai, sebab beban kerja dokter ditambah stres selama pandemi, bisa memicu penularan virus.

“Tak bisa juga dibilang abai, beban dokter tersebut berat lho. Tentu ini saling berhubungan semua. Misalnya kita ambil contoh, beban kerja dokter yang tinggi, bisa saja membuat kelelahan. Kami juga stres lho mengetahui beberapa pasien yang kami rawat misalnya positif Covid-19. Lalu kami kontak sebelumnya. Stres lho kerja seperti itu, itu sudah makanan kami sehari-hari,” tegasnya.

“Kalau bicara virus, sudah pasti kami para dokter berhadapan dengan virus. Okelah memang saat awal pandemi, kami kesulitan APD. Tapi kalau dikatakan kami tak disiplin, harus bicara pakai data. Musti hati-hati lah. Saya kecewa jika beliau Menteri Kesehatan bicara seperti itu,” jelasnya.(jpg)