Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri menyematkan Arung Bilawa sebagai nama Stadion Dompak, Tanjungpinang. Mungkin banyak yang belum mengenal nama tersebut, karena tidak masuk dalam daftar Pahlawan Nasional dari Provinsi Kepri.

Jailani, Tanjungpinang

ADA tiga nama yang ditimang-timang LAM Provinsi Kepri untuk disematkan sebagai julukan pada Stadion Dompak yang berada di tengah-tengah jantung Pemerintah Provinsi Kepri tersebut beberapa waktu lalu.

Pilihan-pilihan tersebut adalah Biram Dewa, Arung Bilawa, dan Sri Tri Buana. Dari ketiga nama tersebut, hanya ada satu nama akan dipilih identitas infrastruktur strategis milik Pemprov Kepri tersebut.

Budayawan Provinsi Kepri, Abdul Malik yang juga merupakan pengurus LAM Provinsi Kepri menjabarkan satu persatu tentang tiga nama itu. Karena ketiga yang diusulkan tersebut, bukan hanya nama tokoh pejuang di tanah Melayu. Karena adanya juga nama lokasi yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang tersebut memulai menjelaskan dari nama Biram Dewa. Menurutnya, Biram Dewa merupakan nama pulau yang berada di kawasan Sungai Carang tempat di mana Raja Haji Fisabilillah mendirikan istana yang sangat megah.

Istana tersebut melambangkan kemakmuran pada zaman Kesultanan Johor Pahang- Riau-Lingga pada tahun 1.700-an. “Kalau Istana Sultan Mahmud di Kota Rebah, Raja Haji di Pulau Biram Dewa. Istana itu melambangkan kemakmuran Sultan Mahmud dengan Raja Haji (Fisabilillah),” ujarnya di Kantor LAM Provinsi Kepri, Tanjungpinang belum lama ini.

Sementara, Arung Bilawa merupakan nama seorang tokoh pahlawan asal Bugis. Yang paling dikenal saat beliau memimpin perang melawan Belanda pada 1820 ditanah Melayu.

Stadion Dompak. (dok.batampos)

Tokoh Bugis ini kata Malik, memiliki inisiatif meminta pemindahan perkampungan Bugis yang dulunya di kawasan Jalan Teuku Umar tepatnya yang saat ini menjadi sekolah Bintan ke Senggarang atau yang saat ini dikenal dengan nama Kampung Bugis.

“Intinya, Arung Bilawa ini adalah tokoh Bugis yang gagah berani melawan Belanda. Sehingga punya jasa bagi Kerajaan Riau Lingga, meskipun namanya tidak disematkan sebagai Pahlawan Nasional,” jelasnya.

Selanjutnya adalah Sri Tri Buana, mengenai nama ini, Malik mengatakan, Sri Tri Buana merupakan nenek moyang orang Melayu. Dirinya juga dikenal dengan nama Sangka Purba. Pada abad ke-12 dulu, ia turun dari Bukit Siguntang Mahameru di Palembang ke Kerajaan Bintan.

Kala itu, Kerajaan Bintan dipimpin oleh seorang Sultan perempuan, Wan Sri Beni (yang kini menjadi nama aula Kantor Gubernur Kepri-red). Ia memiliki anak perempuan bernama Putri Bintan yang kemudian dinikahkan dengan Sri Tri Buana.

“Setelah menikah, lalu Sri Tri Buana ini menggantikan mertuanya memimpin Kerajaan Bintan. Hingga pada abad ke-13, Ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Singapura,” jelasnya lagi.

Ketua LAM Provinsi Kepri, Dato Abdul Razak mengatakan keputusan memilih nama Arung Bilawa bukan keputusan pribadinya, tetapi sudah melalui proses musyawarah bersama pengurus LAM Provinsi Kepri. Salah satu alasannya adalah karena jasanya dalam melawan kolonialisme Belanda.

“Harapan yang kita sematkan adalah, dengan adanya julukan Stadion Arung Bilawa semangatnya membawa perubahan bagi prestasi Kepri di bidang olah raga, sepak bola khususnya ke kancah nasional maupun internasional,” ujar Abdul Razak, kemarin di Tanjungpinang.

Sementara itu, Gubernur Kepri, Isdianto mengatakan Stadion Dompak merupakan salah satu proyek strategis di pusat Pemerintah Provinsi Kepri, maka dari itu akan diresmikan pada dihari jadi Provinsi Kepri ke-18, yakni pada 24 September mendatang. Ia juga memberikan apresiasi atas nama yang sudah disematkan oleh LAM Provinsi Kepri.

“Inikan proyek strategis yang dirancang di era almarhum HM. Sani sewaktu menjadi Gubernur Kepri. Kemudian pembangunannya dilakukan pada era Gubernur Nurdin Basirun. Dan Alhamdulillah penyelesaiannya dimasa saya sebagai Plt Gubernur Kepri,” ujar Isdianto.

Menurutnya, kehadiran stadion ini penantian panjang masyarakat Kepri yang memimpikan adanya stadion sepak bola yang elegan, maka peresmiannya dikemas khusus pada hari jadi Provinsi Kepri ke-18.

Dirinya berharap dengan hadirnya infrastruktur ini bisa membawa angin perubahan yang lebih baik tentang prestasi sepak bola Kepri. Ke depan tentu akan dilanjutkan dengan pembangunan pendukung lainnya.

“Secara bertahap kita akan melengkapi kebutuhan-kebutuhan infrastruktur untuk mendukung bangkitnya olahraga Kepri. Karena olah raga adalah salah media yang bisa mempersatukan masyarakat,” jelas Isdianto.

Seperti diketahui, pembangunan infrastruktur penunjang olahraga tersebut dibangun dalam dua Tahun Anggaran (TA). Yakni pada 2018 dengan anggaran sebesar Rp16 miliar yang meliputi pekerjaan penataan lokasi dan kegiatan pembangunan lapangan. Kemudian pada 2019 sebesar Rp 26 miliar untuk pembangunan tribun sisi barat.(*/jpg)