batampos.co.id – Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi solusi untuk kelestarian air di waduk-waduk yang ada di Pulau Batam.

Manajer Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, dengan menghasilkan air baku baru untuk Pulau Batam, pembangunan IPAL dapat membuat waduk lebih bersih.

Pasalnya limbah domestik yang selama ini mengalir ke waduk, akan disalurkan ke stasiun-stasiun pompa dan diteruskan hingga ke pusat IPAL di Bengkong Sadai.

“IPAL dapat menjaga kualitas air baku waduk dari limbah domestik dan mengurangi menjamurnya eceng gondok,” jelasnya, Jumat (4/9/2020).

IPAL lanjutnya dapat mendukung pelayanan dan keandalan sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Kota Batam.

“Air limbah domestik dari rumah-rumah warga akan dialirkan dengan menggunakan pipa dan sebelum diteruskan ke IPAL di Bengkong Sadai, sampah dan sedimen limbah domestik akan dipisahkan di lima stasiun pompa,” paparnya.

Infografis aliibenk/batampos.co.id

IPAL, kata dia, juga merupakan solusi untuk ketersediaan air baku di Batam.

“Limbah domestik yang diolah di IPAL memiliki mutu baku yang baik bagi lingkungan dan dapat digunakan kembali sebagai air baku,” tuturnya.

Ia menjelaskan, IPAL mampu menghasilkan air baku 230 liter per detik. Sehingga dapat membantu mengatasi krisis air baku di Batam.

Kata dia, limbah domestik yang masuk ke IPAL, akan diolah dengan menggunakan teknologi bakteri.

“Bakteri-bakteri ini kita disimpan di dalam rumah bakteri dengan kedalaman sekitar 5,5 meter,” tuturnya.

Limbah domestik yang telah dimakan oleh bakteri akan kembali diolah sedimentasinya, yaitu berupa lumpur dan diolah menjadi pupuk siap pakai dengan jumlah 18 meter kubik per hari.

“IPAL ini yang dipusatkan di Bengkong Sadai memiliki luas lahan 7 hektar yang dapat menghasilkan air baku baru 230 liter per detik,” tuturnya.(esa/adv)