batampos.co.id – Kasus positif Covid-19 akhirnya menembus angka psikologis 200 ribu kemarin (8/9). Dari jumlah tersebut, sekitar 24 persen atau 48.847 orang masih terbaring sakit. Sedangkan 71 persen lainnya sudah sembuh dan 4,1 persen meninggal.

’’Target kita bersama adalah memastikan jumlah kasus sembuh semakin hari semakin tinggi. Kasus aktifnya makin turun. Demikian pula, kasus meninggal harus semakin turun,” ucap Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito kemarin.

Berdasar perhitungan, kasus positif nasional selama seminggu terakhir naik rata-rata 18,6 persen dibandingkan mingggu lalu. Dari angka 18.625 kasus pada seminggu sebelumnya naik menjadi 22.097 kasus. Peta persebaran kasus juga menunjukkan gambaran yang kurang menggembirakan. Jumlah daerah dengan risiko penularan tinggi, sedang, dan rendah cenderung naik. Sementara itu, persentase daerah hijau terus menurun.

Zona merah naik dari 65 ke 70 kabupaten/kota, daerah oranye atau risiko sedang naik dari 230 ke 267 kabupaten/kota. Daerah risiko rendah atau kuning menurun dari 151 ke 114. Daerah hijau juga menurun dari 42 kabupaten/kota ke 38. Diikuti 26 kabupaten/kota yang tidak terdampak turun ke 25 kabupaten/kota.

Mulai Uji Klinis Plasma Konvalesen

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan mulai melakukan uji klinis terapi plasma konvalesen. Ada empat rumah sakit yang terlibat dalam penelitian uji klinis itu.

Kepala Balitbangkes Slamet mengungkapkan, pada Agustus lalu Food and Drug Administration (FDA) Amerika menyatakan bahwa terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 diperbolehkan. Namun, perlu uji klinis untuk membandingkan dengan pasien yang diobati dengan pengobatan standar. Selain itu, pasien yang diuji harus acak. ”Ini untuk melihat keamanan,” ungkapnya kemarin (8/9).

Balitbangkes pun melakukan uji klinis. Memang selama ini beberapa pasien sudah diberi terapi tersebut. ”Terapi ini baru sehingga perlu tim investigasi. Tim ini yang menyusun protokol uji klinis,” ungkapnya.

Slamet mengatakan, hingga kemarin sudah ada 29 RS yang bergabung. Namun, yang memulai penelitian baru empat RS. Yakni, RSAL Ramelan Surabaya, RSUD Sidoarjo, RSUP Fatmawati Jakarta, dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Peneliti utama uji klinis plasma konvalesen Prof David Mulyono mengungkapkan, terapi plasma sebenarnya sudah ada. Dia mencontohkan pada kasus flu spanyol, flu burung, hingga ebola. ”Pada 5 Maret, Tiongkok melakukan terapi ini kepada beberapa pasien dan hasilnya membaik,” tuturnya. RSPAD Gatot Subroto Jakarta melakukan hal yang sama. Saat ini tim dokter tengah menulis laporannya.

Terkait uji klinis yang baru dimulai, David menyatakan bahwa tujuannya untuk pasien dengan kasus yang sedang dan berat. ”Plasma konvalesen memang bukan untuk pencegahan,” ujarnya.

Sebab, plasma konvalesen digunakan untuk membantu meningkatkan imunitas pasien. Mereka yang boleh donor plasma adalah yang sudah sembuh dalam kurun 2 hingga 12 minggu. Selain itu, diutamakan perempuan yang belum pernah mengandung. ”Plasma yang diambil nanti dibekukan dan kadar sistem imunnya diukur,” beber David. Dia menambahkan, pendonor tetap diskrining layaknya donor darah.(jpg)