TERKAIT profesi saya sebagai awak media, alhamdulillah sudah bertemu dengan ketiga kandidat Gubernur Kepri yang akan mengikuti pilkada serentak 9 Desember 2020. Paling tidak, belum lama ini saya bertemu dengan dua calon gubernur dan satu calon wakilnya.

Pertemuan pertama dengan HM Soerya Respationo, bulan lalu di sebuah acara ulangtahun media online owntalk. Calon gubernur dari PDIP itu tampil seperti biasa: flamboyan dan santai.

Saat didapuk memberikan sambutan oleh tuan rumah, Anwar Anas, saya dan Romo, begitu Soerya biasa disapa, saling melempar guyonan. Saya mendoakan ikhtiarnya menjadi orang nomor 1 di Kepri berjalan lancar. Mendoakan yang baik-baik tentu mendatangkan pahala, pikir saya.

Suasana makin mencair setelah panitia menampilkan tiga pemenang lomba stand up comedy ultah owntalk. Kebetulan saya juga salah satu juri dalam final beberapa hari sebelumnya. Ruangan makin hangat setelah ketiga komika melemparkan joke masing-masing.

Saya kemudian bergeser ke sebelah Pak Soerya, yang sejak awal memilih duduk berbaur dengan undangan daripada di kursi vip. Seperti biasanya, sambil melepas kepulan asap rokok kretek favoritnya. Kesan saya, mantan Wagub era HM Sani ini cukup humble. Kebapakannya juga menonjol. Orangnya tunak menjaga komitmen. Formasi yang ideal berdampingan dengan anak muda yang tengah naik daun, Iman Sutiawan, Ketua DPD Gerindra Kepri.

Kali yang lain, dua pekan lalu, saya berkesempatan coffee morning dengan calon gubernur lainnya, H Isdianto. Gubernur Kepri itu mengundang awak media dan pimpinan perusahaan pers ke MB Greenland, Batam. Sebagai Ketua PWI Kepri, tentu saya wajib hadir bersama pengurus dan awak media yang diundang.

Kesan saya terhadap H Isdianto, dia lembut. Tutur katanya mirip sang kakak, almarhum HM Sani, gubernur sebelum Nurdin Basirun. Bicaranya juga pelan, khas orang Melayu. Saya sempat mengejar pernyataannya terkait dukungannya terhadap wacana provinsi khusus Natuna-Anambas.

“Benarkah Pak Gubernur mendukung hal itu? Saya perlu ketegasan, karena sebagai orang Natuna, saya mendapat banyak pertanyaan terkait pernyataan Bapak,” tekan saya.

H Isdianto yang naik menjadi gubernur setelah Nurdin Basirun tersandung kasus itu menjelaskan kronologis pernyataannya. Awalnya, pria yang akan berpasangan dengan kader PKS, Suryani SE, itu mengaku tidak respons. Namun setelah berkeliling ke Natuna dan Anambas beberapa hari sebelumnya, dia menilai bahwa Natuna (dan Anambas) memang layak menjadi provinsi khusus.

“Wilayah kita begitu luas. Di sana (Natuna-Anambas), terdapat banyak pulau dengan laut yang sangat luas. Sumber daya alamnya akan lebih maksimal untuk rakyat jika jadi provinsi khusus. Jika Bupati minta rekom, sekarang juga saya berikan,” aku Isdianto.

Dengan pasangan kandidat ketiga, saya baru sempat bertemu dengan calon wakil gubernur dari Nasdem Hj Marlin Agustina. Pertemuan dengan istri Wali Kota Batam HM Rudi itu terjadi Jumat malam (11/9), di bilangan Bengkong, Batam. Meskipun sebetulnya jauh sebelum ini pernah bertemu sekilas dengan pasangannya, calon gubernur Ansar Ahmad.

Malam itu, saya baru tahu bahwa wanita Melayu tulen keturunan Raja Riau-Lingga itu gaul juga orangnya. Di sela acara, saya yang duduk berdampingan dengan Hj Marlin dan suaminya, sempat berbincang agak serius.

“Secara keluarga, kehidupan kami sebetulnya sudah lebih dari cukup. Istilahnya sudah selesai. Anak-anak juga sudah menikah dan kerja. Tapi saya ini orangnya suka berbagi dan tak sampai hati melihat orang lain yang kurang beruntung hidupnya. Makanya saya siap lahir batin untuk masyarakat dengan mengikuti pilkada ini,” ucap Hj Marlin lancar.

Hal yang sama kembali diucapkannya di atas panggung, setelah sang suami memberikan kata sambutan. Gaya penyampaian Hj Marlin juga santai. Sesekali juga bergurau. “Lain kali, kalau wartawan wawancara saya, tolong jangan ramai-ramai ya? Terkejut-kejut saya. Maklumlah, saya jarang diwawancarai sebelum ini,” guraunya polos.

Nama pasangan Hj Marlin sendiri, Ansar Ahmad, dari PG, sudah sangat akrab dengan profesi saya, sejak dia masih menjadi kepala bagian di Pemkab Kepri (lama) sebelum menjadi provinsi. Lalu kemudian menjadi wakil bupati mendampingi H Huzrin Hood, kemudian menjadi Bupati Bintan dua periode. Prestasinya cukup kinclong di Bintan hingga ke Senayan. Ada yang menyayangkan Kepri akan kehilangan pelobi di DPR RI sekelas Ansar setelah dia meninggalkan Senayan.

Dari ketiga paslon, hampir semua pernah mengikuti pemilihan langsung oleh rakyat. Soerya pernah terpilih saat jadi wagub HM Sani, Iman saat ini wakil ketua DPRD Batam. Begitu juga Ansar pernah menjadi bupati dan DPR RI, serta Suryani sudah beberapa kali terpilih ke DPRD Kepri. Hanya dua dari kandidat yang belum pernah ikut berkontestasi dan dipilih langsung oleh rakyat, yakni H Isdianto dan Hj Marlin Agustina.

Jadi, dari pasangan Ansar-Marlin; Isdianto-Suryani, dan Soerya-Iman, manakah yang akan menjadi pilihanmu? ***

Penulis adalah Ketua PWI Kepri dan Direktur Batam Pos Online