batampos.co.id – Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, menyampaikan secara detail terkait pemilihan PT Moya Indonesia untuk mengelola air bersih selama enam bulan ke depan.

“Penandatanganan ini saya titip kepada kita semua supaya nanti pemberitaannya di luar betul-betul sesuai dengan fakta tidak lagi merekayasa, sehingga nanti hasilnya menjadi negatif,” ujarnya, setelah melakukan penandatangan kerjasama antara BP Batam dengan PT Moya Indonesia, Senin (14/9/2020).

Ia menjelaskan, dirinya bersama seluruh Deputi BP Batam sepakat agar pengelolaan air di Batam harus lebih sempurna.

“Bukan berarti dulu tidak sempurna, tapi kita ingin lebih sempurna agar ke depannya tidak ada lagi basaha mati bergilir (rationing,red),” ujarnya.

Ia meminta agar pengiliran air bersih ke depannya tidak boleh terjadi lagi.

Tim BP Batam melakukan peninjauan area tangkapan air Waduk Sei Harapan. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

Pada kesempatan itu, Rudi, juga menjelaskan, apa alasan pihaknya menunjuk PT Moya Indonesia untuk mengelola air bersih di Kota Batam selama enam bulan.

“Bahwa Pelelangan sudah dibuka dan ada empat perusahaan yang mendaftar dan salah satunya adalah PT ATB. Tapi dalam perjalanan PT ATB menarik diri, sehingga tinggal tiga PT,” ujarnya.

Ketiga PT tersebut yakti, PT MOya Indonesia, PT PP Infrastruktur dan PT Suez.

“Tapi dalam proses perjalanannya hanya dua PT yang melengkapi, yaitu PT Moya dan PT PP Infrastruktur,” jelasnya.

Berdasarkan hasil seleksi dari tim, ditunjuklah PT Moya Indonesia untuk melakukan pengelolaan air bersih di Batam selama enam bulan ke depan.

Ia menegaskan, tidak ada kepentingan apapun dalam pemilihan PT Moya Indonesia.

“Saya tidak kenal PT Moya, saya kenal PT ATB dan ini demi kepentingan masyarakat Batam. Saya dan seluruh pimpinan BP Batam lainnya mengambil kebijakan ini (memilih PT Moya Indonesia,red) hanya satu alasannya. Agar pelayanan air kepada seluruh investasi dan masyarakat betul-betul bisa terlayani,” tuturnya.(esa/nto)