batampos.co.id – Jembatan 4 merupakan penghubung antara Pulau Setoko dan Pulau Rempang yang memiliki panjang 365 meter dan merupakan jembatan Balance Cantilever terpanjang kedua yang dibangun di Indonesia.

Kepala Biro humas, Promosi dan Protokol BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan, bentang utama jembatan tersebut 145 meter.

“Jembatan 4 ini memiliki desain yang sama dengan jembatan 2, tetapi terdiri dari dua boks pada gelaga jembatan,” ujarnya, Selasa (15/9/2020).

Ia menjelaskan, jembatan tersebut masing-masing memiliki span yang terdiri dari 35 meter, 75 meter, 145 meter, 75 meter dan 35 meter.

Kata dia, gelagar jembatan 4 dapat menampung dua jalur dengan perkerasan jalan selebar 6,5 meter.

Proses pembanguan Jembatan 4 Batam. Foto: Dokumentasi BP Batam.

Masing-masing jalur terdiri dari dua lajur yang dipisahkan oleh median tengah dan dilengkapi trotoar pejalan kaki selebar 2,1 meter. Serta ruang bebas dari permukaan laut selebar 16,5 meter.

“Setiap boks gelagar mempunyai lebar 9 meter dan ketinggiannya bervariasi, dari 7,5 neter pada kolom utama dan 2,5 meter pada tengah bentang,” jelasnya.

Dendi mengatakan, kontraktor pembangunan jembatan 4 adalah PT Waskita Karya. Dengan subkontraktor PT Ballast Indoensia dan PT Freyssinet Total Technology.

“Manajemen kontruksinya dilakukan oleh PT Profes Cipta Wahana Teknik dan lama pengerjaan selama 1.328 hari,” paparnya.

Jembatan 4 selesai dibangun pada 31 Mei 1997. Tenaga kerja yang terlibat didalamnnya masing-masing 7-13 orang sarjana engineer. Kemudian 15-21 tenaga menengah dan pekerja 155-210 orang.

Pulau Rempang yang statusnya sebagai taman buru rencananya akan dikembangkan sebagai daerah industri, pemukiman, pariwisata, perdagangan dan jasa.

“Jembatan 4 ini diberi nama Sultan Zainal Abidin salah satu pejuang Riau, sekaligus ulama yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda untuk mempersatukan Rokan dari Hulu sampai Hilir,” tutupnya.(esa/adv)