batampos.co.id – PAGI baru menyingsing, azan subuh masih di telinga ketika seorang ibu dengan lembut membangunkan putri kecilnya.

“Lin… Nak ikot ambil getah kat Pulau Buru?” ujar si ibu. Sang anak pun merespons dengan menggeliat manja.

Tak lama gadis kecil bernama Marlin Agustina yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu pun berganjak dari peraduan.

Setelah semua beres anak beranak ini keluar dari rumahnya yang sederhana di Baran, Kecamatan Meral, Kabupaten Tanjungbalai Karimun, menuju Pulau Buru untuk menyadap karet

Pulau Buru tempat perkebunan karet tersebut masih berada di wilayah Kabupaten Karimun, namun untuk menuju ke sana Marlin kecil dan ibundanya, Raja Hamidah, harus menyeberang lautan dengan perahu kayu selama beberapa jam.

Sesampainya di Pulau Buru, Marlin dan ibu masih jalan kaki lagi beberapa kilometer, menerabas hutan karet yang sepi di atas jalan tanah merah, seadanya.

Suasana damai. Hanya terdengar suara jangkrik dan kicau burung yang hinggap di dahan pohon. Simponi dari orkestra alam ini bagai hiburan mengisi suasana hati.

Memang tak setiap hari Marlin ikut ibundanya menyadap karet. Biasanya dilakukan pada saat hari libur.

Marlin Agustina berbagi kisah masa kecil. (istimewa)

Sebab, menyadap karet memang harus dilakukan pada pukul 04.00 hingga 08.00. Pasalnya, tekanan turgor tertinggi adalah pada rentang waktu 04.00-08.00 itu.

Namun, pada pukul 04.00 suasana masih gelap. Apalagi Pulau Buru di masa itu, sekitar tahun 80-an, tentunya penerangan masih kurang. Belum lagi jarak tempuhnya. Karena itu, penyadapan bisa dilakukan saat hari sudah terang.

“Menyadap karet tidak bisa sembarangan harus tahu tekniknya agar hasil optimal,” jelas Marlin, Rabu (16/9/2020).

Sebelum disadap, jelasnya, pastikan usia tanaman karet sudah matang, mencapai usia lima tahun atau lebih.

“Saya diajar ibu membuat torehan. Jangan terlalu dalam atau terlalu dangkal. Kalau terlalu dalam bisa merusak pohon, tapi kalau terlalu dangkal, getah yang keluar cuma sedikit,” lanjut Marlin.

Setelah getah karet terkumpul, pada tengah hari itu diserahkan kepada pengepul dengan harga yang disepakati.

Hasil dalam tiap penampungan itu biasanya digiling untuk menghasilkan lembar karet dengan ketebalan seragam.

Selanjutnya lembaran-lembaran karet alam tersebut dilakukan proses pengeringan dengan cara dijemur atau dilakukan proses pengasapan dengan kondisi suhu yang diatur.

“Saya sampai hafal prosesnya, dari mulai karet itu masih mentah hingga dia berbentuk seperti adonan roti,” jelas wanita yang kini banyak memegang posisi pimpinan di organisasi kemasyarakatan di Batam ini.

Petang menjelang, Marlin dan ibundanya pun bersiap pulang kembali ke rumah di Baran. Hari itu mereka punya cukup uang untuk menambah kebutuhan sehari-hari.

Hidup bagi Marlin kecil memang tak mudah, namun mereka tetap bersyukur. Pengalaman menyadap karet ini terus dia kenang.

Kelak keprihatinan hidupnya ini menjadi bekalnya saat dewasa hingga akhirnya dia sukses dan kini menjadi wanita berpengaruh di Batam dan Kepulauan Riau.

” , : . – . , ,” kata seorang penulis, Pramoedya Ananta Toer. (*/uma)