batampos.co.id Lockdown lokal untuk dua perusahaan di Batam diusulkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi. Dua perusahaan itu adalah PT Infineon Technologies Batam di Kawasan Industri Batamindo dan PT Philips Industries Batam di Kawasan Industri Panbil.

Usulan itu muncul setelah di dua perusahaan penanaman modal asing (PMA) itu terdapat 130 orang dinyatakan positif Covid-19. Selain itu, dalam perkembangannya, ada puluhan lagi yang dinyatakan positif.

Namun Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang juga Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, membatalkan rencana lockdown sementara di kedua perusahaan tersebut. Rencana lockdown dua perusahaan ini awalnya untuk mengendalikan penyebaran virus corona yang semakin masif di lingkungan perusahaan.

”Tadi (kemarin, red) sudah rapat. Saya panggil Sekda dan Kadisnaker, Rudi Sakyakirti, kita beri solusi. Saya minta semua karyawan rapid test. Itu kan hanya sebagian yang positif. Tidak mungkin pula di-lockdown,” kata Rudi, Rabu (23/9), seperti dilansir Harian Batam Pos.

Batalnya lockdown yang berimbas pada penutupan sementara dinilai bisa mengancam jalannya produksi di dua perusahaan tersebut. Untuk itu, Rudi meminta perusahaan mewajibkan rapid test kepada seluruh karyawan.

”Kalau mereka yang reaktif langsung dibawa, sedangkan negatif tidak masalah,” ujarnya.

Menurut Rudi, butuh biaya sangat besar untuk swab kepada ribuan karyawan yang ada di dua perusahaan itu. Untuk itu, langkah pencegahan yang bisa dilakukan rapid massal.

”Yang dinyatakan reaktif saat di-rapid test itu saja yang lanjut swab. Karena ini kan usaha. Jadi, rapid test lah. Kalau non reaktif, berarti aman. Kalau swab semua mahal. Berapa ribu karyawannya, biaya besar,” ungkap Rudi.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan, opsi lain yang bisa diambil saat ini adalah membatasi karyawan yang bekerja, agar produksi perusahaan tetap bisa berjalan. ”Ini agar sektor industri tetap jalan, namun keputusan tetap di Tim Gugus,” ujarnya.

Saat ini, perusahaan sudah mengambil tindakan pencegahan dengan melaksanakan rapid test kepada seluruh karyawan. Sedangkan untuk bagian office diminta bekerja dari rumah. Tujuannya untuk menghindari penyebaran yang semakin meluas. ”Mereka sudah bergerak cepat. Karena ini menyangkut produksi perusahaan juga. Selama ini juga sudah berjalan,” imbuhnya.

Didi menyebutkan, tim kesehatan masih berupaya mencari kontak erat pasien positif. Menurutnya masih ada kemungkinan bertambah dari klaster pekerja ini. ”Tadi pagi (kemarin pagi, red) baru masuk data ada tambahan sekitar 42 orang dari Philips. Nanti akan dirilis oleh Tim Gugus Tugas,” ujarnya kemarin.

Sehari sebelumnya, yakni Selasa (22/9), karyawan PT Philips yang dinyatakan positif sudah 67 orang. Jika ditambah dari data kemarin pagi 42 orang, maka totalnya sudah 109 orang. Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah. Karyawan PT Philips jumlahnya mencapai 3.300 orang. Semua akan menjalani rapid test.

Sementara, dari PT Infineon juga terus bertambah, namun datanya belum dirilis Tim Gugas. Sehari sebelumnya (22/9), jumlah positif di PT Infineon 63 orang. Belum termasuk data terbaru kemarin (23/9). Bahkan, sekitar 30-an orang karyawan dikabarkan menjalani isolasi mandiri di salah satu hotel di bilangan Nagoya.

Beberapa hotel di Batam memang sejak lama siap memberikan layanan pada masyarakat yang ingin menjalani isolasi mandiri. Saat ini, jumlah karyawan PT Infineon sekitar 1.000 orang. Untuk saat ini PT Infineon sudah meminta semua karyawan mereka yang bekerja di bagian office untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). (*/jpg)