batampos.co.id – Kasus penularan dan kematian akibat Covid-19 kian tak terkendali. Penyakit yang belum ada vaksinnya itu telah merenggut lebih dari satu juta nyawa.

Dilansir Agence France-Presse (AFP), hingga Senin (28/9) korban jiwa sudah mencapai 1.002.036 orang. Sedangkan mereka yang positif tertular sebanyak 33.162.930 orang.

Data tersebut adalah kompilasi dari laporan yang dikeluarkan resmi oleh berbagai negara dan didapatkan jurnalis AFP. Sumber statistik lain seperti Worldometer dan Statista mencatatkan rekor serupa. Korban jiwa tertinggi ada di AS. Disusul Brasil, India, Meksiko, dan Inggris.

Angka tersebut seharusnya tak mengejutkan. Beberapa hari lalu Kepala Kedaruratan WHO Dr Mike Ryan sudah menegaskan bahwa kematian akibat Covid-19 bisa tembus 2 juta orang. Sebab, meski vaksinnya nanti tersedia, distribusinya tidak akan secepat membalik telapak tangan. Apalagi, tidak semua negara mampu membeli dalam jumlah besar. Vaksin dan langkah-langkah pencegahan kematian harus terus digulirkan.

’’Jika kita tidak melakukan segalanya, jumlah (kematian) yang Anda bicarakan itu bukan hal yang tidak mungkin. Sayangnya, itu sangat mungkin terjadi,’’ terangnya kepada para awak media. Saat ini ada sembilan vaksin yang masuk uji klinis tahap ketiga, tapi belum ada yang benar-benar sudah jadi.

Beberapa negara di Eropa yang sebelumnya terdampak cukup parah penularan gelombang pertama kini harus mengalami hal serupa. Terjadi lonjakan penularan sejak penerapan protokol kesehatan dilonggarkan. Kota-kota besar seperti Paris, London, dan Madrid harus berjuang keras untuk mengontrol situasi agar rumah sakit tak overload.

Pemerintah Spanyol memutuskan lockdown sebagian di Madrid yang berdampak pada sekitar satu juta penduduk. Ada 45 distrik yang terdampak, rata-rata adalah wilayah yang mayoritas dihuni kelas menengah ke bawah. Penerapan kuntara itu membuat sebagian penduduk berang dan menuding pemerintah telah melakukan diskriminasi.

Di Prancis, ada 11 kota yang dikategorikan memiliki risiko besar penularan. Salah satunya, Paris. Mereka menerapkan kebijakan baru yang lebih ketat pada kota-kota tersebut hingga 15 hari ke depan. Misalnya, bar harus tutup pada pukul 22.00–06.00.

Pesta pernikahan, festival, dan berbagai acara lainnya yang menghadirkan banyak orang tidak boleh digelar. Bioskop, museum, dan teater tetap boleh buka dengan aturan sangat ketat. Mulai akhir pekan depan, berkumpul di tempat umum diperbolehkan maksimal hanya 10 orang.

’’Jika tidak menerapkan aturan yang ketat, kita akan menghadapi gelombang kedua yang sulit diatasi rumah sakit dan ICU dibanding yang terjadi pada gelombang pertama,’’ bunyi pernyataan para dokter dan profesor bidang medis dalam surat terbukanya seperti dikutip The Guardian.

AS menjadi negara yang paling terpukul akibat pandemi Covid-19. Ketua Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS Robert Redfield menegaskan, ancaman Covid-19 jauh dari kata akan berakhir. Hal itu berbeda dengan paparan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa pandemi segera usai. ’’Kita saat ini masih jauh dari kata berakhir,’’ tegas Redfield seperti dikutip NBC, Senin (28/9).

Sementara itu, di Tiongkok, persebaran Covid-19 justru melandai. Virus SARS-CoV-2 kali pertama muncul di Wuhan. Kini kota yang sempat di-lockdown total itu justru bisa hidup normal karena angka penularan sangat rendah. ’’Kehidupan kini sudah kembali seperti sedia kala. Semua orang yang tinggal di Wuhan merasa nyaman,’’ tegas An An, warga setempat.

Beberapa kasus baru di Beijing diklaim berasal dari makanan beku yang diimpor dari luar negeri. Karena itu, pemerintah ibu kota Tiongkok tersebut meminta para importer menghentikan sementara impor makanan beku. Terutama dari negara-negara yang kini penularannya masih tinggi.(jpg)