batampos.co.id – Janji Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menurunkan tarif logistik kontainer pada September ini terus ditagih pengusaha di Batam.

Terutama pelaku industri yang produknya berorientasi ekpsor. Ketua Asosiasi Pengusaha
Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan, keluhan pengusaha soal mahalnya tarif kontainer dari Batam sudah didiskusikan dengan Direktur Pelabuhan BP Batam.

Apindo mengapresiasi Direktur Pelabuhan yang dengan cepat tanggap menangani keluhan pengusaha di Batam.

”Artinya, sudah ada banyak usaha yang telah dilakukan BP Batam dalam rangka
menurunkan tarif kontainer. Termasuk meminta operator untuk menurunkan tarifnya,”
kata Rafki, Selasa (29/9/2020) seperti yang dilansir dari Harian Batam Pos.

Tapi sayangnya, menurut Rafki, hal tersebut belum berdampak signifikan. Karena persoalan utamanya terletak pada skala ekonomis pelabuhan yang relatif masih kecil.

Begitu juga dengan peralatan bongkar muat yang dipakai tertinggal jika dibandingkan dengan peralatan yang dipakai di negara tetangga.

Masalah lainnya, kontainer kosong yang masih harus didatangkan dari Singapura menyebabkan dua kali pengenaan tarif terhadap kontainer yang sama.

”Hal ini terjadi akibat dari perluasan Pelabuhan Batu Ampar yang masih terkendala. Terakhir kita dengar BP Batam batalkan kerja sama dengan Pelindo II dalam perluasan Pelabuhan Batu Ampar,” ungkapnya.

Persoalan tarif kontainer ini sudah jadi isu penting di kalangan calon investor asing yang mau masuk ke Batam.

Seorang pekerja sedang memindahkan kontainer di Pelabuhan Batuampar, beberapa waktu lalu. Ongkos logistik yang mahal masih dikeluhkan oleh pengusaha. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Rafki mengaku mendengarnya langsung dari beberapa calon investor asal Jepang, Tiongkok, dan Amerika yang berencana masuk ke Kepri ketika berdiskusi dengan Menko Perekonomian.

”Untuk itu, kita berharap modernisasi dan perluasan Pelabuhan Batu Ampar itu segera direalisasikan oleh BP Batam,” kata Rafki.

Jika terealisasi, maka Batam lebih kompetitif sebagai daerah tujuan investasi. Sejauh ini, BP Batam sudah memaparkan rencana pengembangan pelabuhan di Batam ke depan.  Menurut Rafki, rencana itu sudah sangat bagus.

”Tapi yang paling penting, rencana itu segera direalisasikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri, Achmad Ma’ruf Maulana pernah mengatakan masalah mahalnya ongkos logistik kontainer dari Batam ke luar negeri sudah menjadi isu nasional yang tidak kunjung selesai sejak dua tahun terakhir.

“Masalah ini sudah sangat serius. Kami mendapat laporan adanya investasi yang gagal masuk ke Batam hanya gara-gara tarif logistik yang mahal, sehingga tidak kompetitif,” ujarnya.

Ia menyarankan BP Batam segera membentuk badan usaha logistik sendiri untuk
mengatasi masalah ini. Badan usaha logistik milik BP Batam bertujuan menguasai jalur
logistik dari Batam menuju Singapura dan tujuan negara lain dengan tarif yang lebih kompetitif, termasuk menguasai proses handling di Pelabuhan Batu Ampar.

Menyikapi kondisi itu, Deputi IV BP Batam, Shahril Japarin, mengatakan, bahwa BP Batam sudah berupaya menurunkan tarif logistik dengan berbagai cara.

Termasuk mempertemukan langsung sejumlah pemilik kargo besar dengan perusahaan logistik yang mengangkut kontainer dari Batam menuju Singapura.

”Kami sudah berupaya membantu penurunan biaya logistik Batam-Singapura dengan mempertemukan langsung beberapa pemilik kargo besar dengan feeder pengangkutan kontainer, sehingga bisa turunkan biaya logistik lebih dari 30 persen,” kata Shahril.

Ia menyarankan, jika masih ada pengusaha atau pemilik kargo yang merasa biaya logistik masih mahal, dipersilahkan menghubungi langsung Direktur Pelabuhan BP Batam, Nelson Idris.

”Kami akan fasilitasi,” imbuhnya.

Hal yang juga tengah disiapkan BP Batam yakni penyiapan depo kontainer berstandar internasional. Tujuannya untuk mengurangi biaya pengambilan kontainer kosong dari Singapura.

”Kami juga telah meminta Pertamina untuk turunkan harga BBM kapal dan pesawat agar lebih bersaing dengan negara tetangga,” ungkapnya.

Mengenai batalnya rencana kerja sama Pelindo II dan BP Batam dalam membangun Pelabuhan Batu Ampar, Shahril tidak banyak berkomentar.

”Kita sedang siapkan rencana berikutnya,” katanya.(jpg)