batampos.co.id – Target 15,7 juta pekerja penerima bantuan subsidi upah (BSU) gagal tercapai. Hingga penutupan pendaftaran rekening pekerja pada 30 September 2020, hanya 12,4 juta yang lolos verifikasi. Sisa anggaran rencananya dialihkan untuk guru honorer.
Dalam penjelasannya, Kamis (1/10), Direktur Utama BP-Jamsostek Agus Susanto memaparkan, bahwa hingga batas akhir pengumpulan nomor rekening (norek) pekerja oleh perusahaan/pemberi kerja, tercatat 14,8 juta norek berhasil terkumpul.
Dari jumlah tersebut, kemudian dilakukan validasi berlapis oleh pihaknya. Mulai dari validasi dengan 127 bank untuk mengetahui validasi norek, validasi kesesuaian pekerja dengan persyaratan yang ada di Permenaker 14/2020, hingga validasi ketunggalan data antara nomor induk kependudukan (NIK) dengan kepesertaan BP-Jamsostek dan norek.
”Dari jumlah tersebut, 12,4 juta nomor rekening dinyatakan valid dan 2,4 juta tidak valid,” paparnya dalam temu media secara daring tersebut.
Jumlah yang tidak valid ini pun akhirnya terpaksa didrop. Menurutnya, dari 2,4 juta data yang tidak valid tersebut, 75 persen disebabkan karena pekerja tidak sesuai dengan kriteria yang ada di Permenaker 14/2020. Misalnya, upah di atas Rp 5 juta dan baru menjadi peserta BPJamsostek setelah Juni 2020.
Untuk sisa 25 persen lainnya, dinyatakan tidak valid karena gagal konfirmasi ulang. Maksudnya, perusahaan tidak melakukan pengembalian data yang sebelumnya diretur oleh BP-Jamsostek untuk diperbaiki. ”Hingga hari terakhir tidak ada koreksi balik,” ungkapnya.
Data 12,4 juta tersebut pun telah diserahkan BPJamsostek dalam lima batch pada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Di mana, pada batch terakhir dilakukan dalam dua sesi, pada 29 dan 30 September 2020 lalu.
Menurutnya, data ini pun tak serta merta lolos dari check-list yang dilakukan Kemenaker. Ada sekitar 165 ribu yang dikembalikan untuk diperbaiki kembali. ”Dan sudah 130 ribu yang kita perbaiki dan dikembalikan lagi. Meski, ada sisa retur yang belum bisa diperbaiki,” papar Agus.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ketenagakerjaan (menaker) Ida Fauziyah membenarkan bahwa data batch kelima sudah diserahkan pada pihaknya. Saat ini, data tersebut sedang melalui tahapan checklist oleh pihaknya. Sehingga, diharapkan bisa segera dicairkan dalam waktu dekat.
Diakuinya, selama ini banyak kendala yang ditemukan dalam proses penyaluran BSU ini. Paling banyak terkait urusan rekening. Mulai dari duplikasi rekening, rekening tidak valid dan dibekukan, rekening sudah tutup, hingga nama di rekening pekerja tidak sesuai dengan NIK.
”Ini yang menjadi kendala akhirnya mengapa penyaluran dari batch pertama hingga empat belum 100 persen,” ungkapnya.
Setelah seluruh tahapan tersebut rampung, pihaknya akan mulai melakukan evaluasi mengenai penyaluran termin pertama dalam waktu dua minggu. Seperti diketahui, BSU yang diberikan sebesar Rp 600 ribu per bulan untuk rentang waktu empat bulan ini dicairkan dalam dua tahap.
Di mana setiap tahapnya merupakan akumulasi untuk dua bulan. Artinya, setiap pencairan, pekerja mendapat dana sebesar Rp 1,2 juta. ”Kapan termin dua dimulai? Insyaallah sebelum november sudah disalurkan,” jelas Politisi PKB tersebut.
Lalu, bagaimana dengan sisa kuota dari BSU ini? Ida menyampaikan, bahwa nantinya sisa anggaran bakal dikembalikan ke kas negara. Hingga saat ini, pihaknya masih belum berhitung secara pasti berapa besaran angkanya.
Sebab, masih menunggu realisasi penyaluran batch kelima rampung. ”yang jelas, dana ini digunakan untuk 12,4 juta pekerja. Jadi sisanya dikembalikan,” jelas Ida.
Dana tersebut rencananya akan dialihkan untuk membantu guru honorer di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama, juga guru ngaji. Mereka dinilai berhak menerima bantuan karena memang membutuhkan. (*/jpg)
