batampos.co.id – Situasi Pelabuhan Feri Internasional Batam Center berubah drastis akibat pandemi Covid-19. Seperti terlihat Selasa (6/10), aktivitas pelabuhan hanya melayani TKI yang dideportasi dari Malaysia, serta pekerja yang dapat menunjukan hasil PCR atau swab.

Syahbandar Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Mario Erik, mengatakan, sampai saat ini kapal dari Batam tujuan Singapura dan Malaysia atau sebaliknya masih beroperasi. Namun, jumlahnya jauh dari saat sebelum pandemi Covid-19.

”Setiap hari pasti ada kapal yang berangkat dan datang. Namun, hanya satu kapal untuk tujuan Singapura dan satu kapal ke Malaysia,” ujar pria yang akrap disapa Erik ini.

Untuk Selasa (6/10), jumlah penumpang yang datang dari Singapura ada 8 orang, terdiri dari 7 WNI dan 1 WNA. Sedangkan yang berangkat sekitar 60 orang, yang terdiri dari WNI dan WNA juga.

”Rata-rata yang ke Singapura atau balik Batam adalah pekerja. Sedangkan kapal tujuan Malaysia tadi kosong, dan datang sore ada 39 orang. Semuanya berstatus TKI yang dideportasi,” sebut Erik.

Sementara itu, Manager Operasional Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Nika Astaga mengatakan, jumlah penumpang sangat jauh menurun di banding kondisi normal sebelum pandemi. Hanya ada dua kapal yang berangkat dan datang, yakni tujuan Malaysia dan Singapura atau sebaliknya.

”Dulu penumpang diakhir pekan bisa 7.000-an satu harinya. Sekarang perbulannya paling banyak 400 penumpang. Operator kapal juga banyak yang tutup,” terang Nika.

Menurut dia, sejak sebulan terakhir penumpang yang berangkat maupun datang wajib menunjukan surat PCR atau swab. Surat itu berlaku 7 hari dari pengecekan. Surat PCR biasanya adalah pekerja, yang sudah dapat jaminan dari perusahaan.

”Kalau yang datang wajib menunjukan PCR, jadi tak perlu dikarantina lagi. Tapi kalau yang berangkat tetap dikarantina di Malaysia atau Singapura. Sedangkan yang dideportasi dan menjalani swab di pelabuhan dibawa ke rumah sakit rujukan,” ungkap Nika. (*/jpg)