batampos.co.id – Musim penghujan yang masih terjadi di Batam, berpotensi mendorong kenaikan harga pada komoditas bahan pangan, terutama sayuran. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memprediksi, kenaikan harga akan terjadi tapi masih terkendali pada kisaran yang rendah.

”Risiko inflasi yang perlu diwaspadai yakni peningkatan curah hujan, kemudian gangguan cuaca berupa gelombang laut yang tinggi menjelang akhir tahun dapat menghambat distribusi logistik dan bahan pangan,” kata Kepala BI Perwakilan Kepri, Musni Hardi, Selasa (6/10).

Faktor lainnya, yakni masih berlanjutnya peningkatan harga emas. Oleh karena itu, upaya pengendalian inflasi oleh tim pengendali inflasi daerah (TPID) pada Oktober akan difokuskan pada upaya menjaga kelancaran distribusi dan memastikan ketersediaan pasokan.

”Guna menjaga kelancaran pasokan dan ketersediaan barang, TPID Kepri menjalin kerja sama antardaerah dalam rangka pengendalian inflasi di waktu yang akan datang,” paparnya.

Upaya lain yang dilakukan, yakni mendorong pemasaran bahan pangan secara online. Antara lain melalui Pasar Mitra Tani maupun Gerai Tani Online Tanjungpinang. ”Pemasaran secara online tersebut diharapkan dapat mengefisiensikan tata niaga bahan pangan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional,” terangnya.

Secara garis besar, September lalu Batam mengalami deflasi yang bersumber dari penurunan harga tarif angkutan udara, beras dan telur ayam ras.

”Komoditas utama penyumbang deflasi adalah angkutan udara yang mengalami deflasi sebesar 17,53 persen (mtm). Deflasi pada angkutan udara itu bersumber dari penurunan harga oleh maskapai penerbangan untuk menarik jumlah penumpang,” ungkapnya.

Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (mtm) yang didorong oleh penurunan harga beras dan telur ayam ras. Masing-masing turun sebesar 3,54 persen (mtm) dan 7,15 persen (mtm).

”Itu terjadi seiring dengan tercukupinya pasokan dari sentra penghasil,” pungkasnya. (*/jpg)