batampos.co.id – Hari ini (8/10), ribuan massa dari elemen buruh dan mahasiswa berencana melakukan ujuk rasa di depan Gedung DPR RI. Ini karena menolak disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Pantauan JawaPos.com di lapangan depan Gedung DPR tampak lenggang tidak adanya kendaraan. Itu karena terjadi penutupan jalan di depan Gedung DPR oleh pihak kepolisian dengan menggunakan kawat berduri.

Begitu juga di jalan dari arah Polda Metro Jaya menuju gedung rakyat DPR tepat di sekitar fly over TVRI juga sudah ditutup kawat berduri.

Aparat TNI – Polri sudah bersiga di sekitar lokasi. Sejumlah kendaraan taktis milik kepolisian juga sudah berjaga untuk mengatisipasinya adanya ujuk rasa menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja tersebut.

‎Adapun, sebanyak 9.346 personel gabungan Polri – TNI disiagakan untuk mengantisipasi aksi unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan serikat buruh dan mahasiswa.‎

Sebelumnya, kericuhan mewarnai unjuk rasa menolak Omnibus Law Cipta Kerja di depan kantor DPRD Jabar kemarin (7/10). Mahasiswa dari berbagai kampus yang turun ke jalan mencapai ribuan. Lebih banyak daripada aksi sehari sebelumnya.

Demo yang semula tertib, diisi dengan orasi secara bergantian, memanas setelah ada aksi membakar ban. Tak lama berselang, terjadi pelemparan botol minuman, batu, kaca, dan petasan. Sebagian massa berusaha masuk ke halaman gedung DPRD.

Petugas gabungan TNI dan Polri lalu menembakkan gas air mata. Demonstran pun semburat.

Sebagian lari ke depan Gedung Sate, Dukomsel, serta ke arah Trunojoyo. Hingga sekitar pukul 18.00, sebagian massa masih berkumpul di samping Lapangan Gasibu.

Sementara itu, mayoritas mahasiswa terdesak hingga ke depan kampus Unisba. Sekitar pukul 18.30, bentrokan kembali terjadi di dekat kampus itu. Ratusan mahasiswa masuk ke kampus, sebagian lainnya berkumpul di kampus Universitas Pasundan (Unpas).

Pantauan Radar Bandung, hingga pukul 20.30 tadi malam, ratusan mahasiswa masih berkumpul di dua kampus tersebut. Kampus Unisba dan Unpas secara spontan dijadikan posko medis karena tak sedikit massa yang terluka. Berdasar keterangan dari posko medis kampus Unisba, korban yang tercatat sebanyak 138 mahasiswa dari berbagai kampus. Ada pula sejumlah siswa SMA dan SMK.

Taufik, salah seorang relawan medis, menuturkan, kebanyakan korban mengalami sesak napas dan histeris karena tembakan gas air mata. Sebagian korban juga terluka akibat terkena lemparan batu atau pecahan kaca. Dia menduga ada mahasiswa yang terkena tembakan peluru karet. Ada juga mahasiswa yang mengalami luka cukup berat. Dia menderita luka sobek di kepala.

Hingga pukul 20.50, mahasiswa masih berkumpul di kampus Unisba dan Unpas. Sementara itu, pihak kepolisian menangkap beberapa peserta aksi dan memastikan bahwa massa yang membuat suasana memanas bukan dari kalangan mahasiswa.

Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya mengatakan, kericuhan terjadi menjelang petang. Saat itu massa aksi yang didominasi orang berpakaian hitam berusaha mendobrak gerbang gedung DPRD.

’’Mereka masuk sambil melemparkan batu dan anarkistis. Maka, kami pukul mundur dan melakukan penyisiran sehingga mereka bisa membubarkan diri dan klir di kawasan DPRD dan Gedung Sate,” katanya.(jpg)