batampos.co.id – Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang disahkan pada Senin (5/10) menimbulkan penolakan hampir dari seluruh kalangan masyarakat. Aksi unjuk rasa dari elemen buruh dan mahasiswa pun menghiasi sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan ada pelajar atau siswa menengah yang ikut terlibat.

Terkait terlibatknya siswa dalam demo UU tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jumeri menyayangkan tindakan anak sekolah tersebut. Dia beranggapan bahwa seharusnya mereka belajar, bukan berdemo.

“Itu sangat disayangkan pelajar setingkat menengah demo di jalanan yg rentan,” ujar dia kepada wartawan, Kamis (8/10).

Jumeri pun meyakini bahwa mereka hanya ikut-ikutan saja, tidak mengerti konteks dari demonstrasi itu sendiri. Sehingga dia meminta koordinator pelaksana aksi unjuk rasa untuk tidak melibatkan para pelajar yang masih di bawah umur.

“Saya juga punya keyakinan mereka belum tahu persis sebenarnya apa yang diperjuangkan,” imbuhnya.

Pihak polisi dalam mengawal keamanan aksi unjuk rasa tersebut juga telah mengamankan para pelajar di berbagai wilayah yang masih dibawah umur. Kata Jumeri, hal tersebut merupakan konsekuensi dari tindakan mereka.

“Polisi punya standar dalam memangani kenakalan anak-anak, mereka diberi pembinaan oleh kepolisian, sekolah dan orang tuanya. mereka harus diselamatkan dari bahaya,” pungkas dia.(jpg)