batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat kasus demam berdarah dengue (DBD) sejak Januari hingga September 2020, mencapai 512 kasus.

Dari jumlah itu, empat orang di antaranya meninggal dunia. Angka ini lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 564 kasus dengan dua orang meninggal dunia.

”Secara umum tidak ada peningkatan kasus (DBD),” ujar Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Senin (12/10/2020) seperti yang dilansir dari Harian Batam Pos.

Berdasarkan data Dinkes, kasus DBD tertinggi sepanjang 2020 terjadi di bulan Agustus, yakni sebanyak 88 kasus.

Ilustrasi. Demam Berdarah.

Sementara, kasus terendah di bulan April yakni 31 kasus DBD. Sedangkan untuk bulan Oktober 2020 ini, sudah ada 25 kasus DBD di Kota Batam.

Upaya penanganan DBD tetap harus dilakukan, salah satunya adalah dengan rutin melakukan fogging atau pengasapan di lingkungan masyarakat.

Upaya pencegahan di samping mengajak masyarakat untuk
melakukan gerakan hidup sehat, adalah melalui 3M plus, yakni menguras, mengubur dan menutup, membasmi ruang berkembangnya jentik nyamuk.

Serta, membuat pelindung tambahan seperti memasang kelambu. Di samping itu, pihaknya juga melakukan upaya pencegahan dengan mengaktifkan kembali gerakan 1 rumah 1
jumantik, penyuluhan oleh puskesmas pada masyarakat serta larvasidasi dengan pemberian bubuk Abate.

”Langkah terakhir untuk memutus mata rantai penyebaran, dengan melakukan fogging bila hasil penyelidikan epidemiologi puskesmas positif serta koordinasi lintas sektor,” tuturnya.

Ia juga menyebutkan, gejala dini DBD seperti panas badan mendadak tinggi selama 2­7 hari, nyeri di belakang bola mata, nyeri kepala, mual, dan muntah.

”Sementara untuk tanda-tanda pendarahan seperti bercak merah pada lengan, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, BAB berdarah serta syok,” pungkasnya.(jpg)