batampos.co.id – Pariwisata bisa menggairahkan perekonomian daerah. Caranya? Mengembangkan desa wisata. Perekonomian lokal berputar kembali asalkan protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan tertib.

Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Andi Yuwono menyatakan, pengembangan desa wisata menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata. Sejak persebaran virus SARS-CoV-2 kian tidak terkendali, industri wisata terpuruk. Namun, desa wisata bisa menjadi cara untuk mendongkrak kembali kinerja pariwisata.

“Harus ada daya tarik yang orientasinya adalah wisatawan lokal,” papar Andi tentang kriteria desa wisata, Jumat (9/10).

Dengan berorientasi pada wisatawan lokal, pariwisata bisa tetap menggeliat meski sedang pandemi Covid-19. Sebab, konsep desa wisata adalah dari dan untuk masyarakat setempat dan sekitarnya.

Data Asidewi menyebutkan bahwa saat ini ada 1.302 desa wisata di seluruh Indonesia. Enam peringkat teratas adalah 138 desa wisata di Jawa Barat (Jabar), 132 di Jawa Tengah (Jateng), 114 di Jawa Timur (Jatim), 92 di Nusa Tenggara Timur (NTT), 87 di Sumatera Utara (Sumut), dan 57 di Jogjakarta.

Posisi desa wisata berada di lingkup usaha mikro dan kecil. Secara nasional, ada 63.350.222 unit usaha mikro (98,68 persen dari total usaha) yang menyerap 107.376.540 tenaga kerja (89,04 persen). Adapun usaha skala kecil, tercatat ada 783.132 unit (1,22 persen) dan menyerap 5.831.256 pekerja (4,84 persen).

Sinergi pelaku wisata dalam mengembangkan potensi wisata akan lebih meningkatkan potensi desa. “Terutama dengan memanfaatkan unsur-unsur pentahelix. Yaitu, akademisi, bisnis, community, government, dan media,” ungkap Andi.

Terpisah, Pembina Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jatim Bambang Priambodo menegaskan perlunya tetap mengembangkan potensi desa wisata pada masa pandemi. Sebab, geliat ekonominya berdampak langsung terhadap usaha mikro dan kecil. (*/jpg)