batampos.co.id – Laut China Selatan kembali memanas usai konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok terhadap kawasan tersebut. Akibat konflik tersebut, kapal coast guard Tiongkok terlihat sempat memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI Kolonel Wisnu Pramandita mengatakan, guna mengantisipasi hal itu, Bakamla sudah mengirimkan kapal untuk melakukan patroli dan penjaga. Langkah ini dilakukan guna menjaga kedaulatan bangsa.

“Kita tetap gelar kapal patroli untuk menunjukkan kehadiran,” kata Wisnu saat dikonfirmasi, Kamis (15/10).

Ia menuturkan, Indonesia memang tidak terlibat langsung konflik antara Amerika dan Tiongkok. Oleh karena itu, kapal Bakamla hanya sebatas melakukan patroli penjagaan di perairan Indonesia, khususnya Laut Natuna Utara.

“Saat ini itu yang dapat dilakukan mengingat kita tidak ada klaim dan tidak terlibat dalam ketegangan kedua negara,” imbuhnya.

Wisnu menerangkan, ada 2 kapal yang dikirim Bakamla ke Laut Natuna Utara. Ditambah dengan satu pesawat pengamat maritim. Bakamla juga didukung dengan armada dari TNI AL dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan pengawasan.

“Rencana sampai akhir tahun sesuai dengan ketersediaan anggarannya. TNI AL dan KKP juga hadir di sana,” tandasnya.

Diketahui, konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok di perairan Laut China Selatan terus memanas. Negeri Tirai Bambu itu tetap mengklaim bahwa kawasan tersebut merupakan bagian dari kedaluatannya sesuai dengan 9 garis putus, yakni hukum kepemilikan laut yang diukur berdasar letak historis.

Akibat konflik ini, kapal coast guard Tiongkok pun terlihat memasuki ZEE Indonesia. Kapal tersebut berhasil diusir keluar setelah dibayangi terus oleh kapal Bakamla selama 3 hari.(jpg)