batampos.co.id – Gas elpiji 3 kilogram masih jadi pusat perhatian masyarakat di Batuaji dan Sagulung.

Hingga kemarin, gas bersubsidi ini masih sulit didapat. Untuk mendapatkan satu tabung gas, warga harus mencari hingga ke kecamatan lain.

Warga semakin frustasi. Sebab, tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tapi juga harus merogoh kocek lebih dalam karena gas yang dibeli dari pedagang eceran umumnya di atas harga eceran
tertinggi (HET) yakni Rp 18 ribu per tabung.

Ancaman warga mengambil tindakan sendiri semakin disuarakan. Pasalnya, belum ada tindakan nyata dari pemerintah atau instansi terkait atas persoalan ini.

”Semakin hari semakin langka saja. Sudah muak kami dengan keadaan ini. Mau sampai kapan seperti ini?,” protes Afrizal,
warga Seibinti, Sagulung, Rabu (14/10/2020) seperti yang dilansir dari Harian Batam Pos.

Ilustrasi gas 3 kilogram atau gas melon. Foto; Cecep Mulyana/Batam Pos

“Kalau memang tak bisa lagi memenuhi kebutuhan warga sebaiknya ditiadakan saja sekalian biar semuanya tak bisa menggunakan gas subsidi lagi. Ini warga yang kewalahan, tapi warung, kedai kopi tetap ada stok gas subsidi ini. Ada apa dengan
semua ini,” katanya lagi.

Sebelumnya, warga mengan cam akan menahan truk pengangkut gas melon jika ditemui di jalan raya.

Ancaman ini kembali disuarakan oleh beberapa warga yang dijumpai Batam Pos, kemarin. Mereka mengaku tengah mengintai truk pengangkut gas.

Jika ketemu mereka beramai-ramai akan menghentikannya agar
gas dijual ke mereka yang kesulitan mendapatkan gas selama ini.

”Lagi keliling nyari ini. Kalau jumpa sama truk itu mau kami tahan,” kata Andika, warga Sagulung.

Kelangkaan gas melon masih dirasakan masyarakat Kota Batam dalam beberapa minggu terakhir.

Tak hanya di tingkat pangkalan, sampai pengecer pun cukup sulit ditemukan.(jpg)