batampos.co.id – Pandemi Covid-19 menghantam segala lini. Termasuk PMI Batam yang mengalami kesulitan biaya operasional sejak Covid-19 melanda Batam. Sebab itu, PMI Batam kembali menggelar agenda penggalangan dana untuk mengumpulkan biaya operasional, yang dikenal dengan bulan dana PMI.

PMI Batam sendiri melaksanakannya selama tiga bulan, mulai Oktober sampai dengan Desember mendatang. Untuk menggerakkan masyarakat Batam maupun masyarakat luar Batam, PMI Batam menggandeng komunitas penggiat digital agar bersama-sama menggaungkan dan mengajak berpartisipasi pada bulan dana PMI ini.

Wakil Ketua PMI Kota Batam Asmin Patro mengungkapkan PMI Batam dalam keadaan sekarat sebab dana bantuan operasional dari pemerintah dipangkas. Dana pemerintah banyak dialihkan untuk penanganan Covid-19, sehingga PMI Batam pun ikut terdampak. Padahal, selama pandemi biaya operasional tidak turun karena kebutuhan darah juga tidak turun signifikan.

“Kami pikir selama pandemi Covid-19, permintaan darah akan turun drastis, ternyata tidak. Memang turun, tapi hanya sedikit,” ungkap Asmin Patros saat Diskusi dan Pembentukan Penggalangan Dana PMI, Rabu (14/10).

PMI Batam bersama komunitas penggiat digital Batam usai diskusi, Rabu (14/10). (f.istimewa)

Kebutuhan darah di Batam rata-rata 1.800 kantong, bahkan lebih. Sementara pendonor sukarela hanya 850 orang saja. Kebutuhan darah yang tetap tinggi ini berbanding lurus dengan biaya operasional. “Mungkin ada yang bertanya, donor darah itu gratis tapi kenapa saat ambil darah itu berbayar? Darah itu memang gratis tapi kantong darah kami beli karena kami tidak bisa produksi. Proses pengolahan dan penyimpanan dana pun butuh biaya,” jelas Asmin.

Karena itu, pada akhir pekan ini PMI Batam memulai penggalangan dana. Bulan dana PMI akan dilaksanakan pada tanggal 17-18 Oktober 2020. Pada Sabtu, 17 Oktober, lokasinya di Pasar Pujabahari dan Pasar Penuin, mulai pukul 07.00 WIB. Kemudian dilanjtukan di BCS dan Grand Mall pukul 13.00 – 17.00 WIB.

Sementara pada Minggu, 18 Oktober, rencananya di Pasar Mega Legenda dan Pasar Mitra Raya, Batam Centre, mulai pukul 07.00 WIB. Lalu siang sampai sore di Nagoya Hill dan DC Mall.

Sebelumnya, PMI Kota Batam terancam tutup akibat minimnya bantuan dana operasional dari Pemko Batam. Sebab, selama ini PMI Kota Batam selalu mencari sendiri biaya operasional mereka melalui komunitas sosial dan sebagainya.

”Iya, itu keluhannya. Bahwa palang merah Batam sampai sekarang sudah berdiri 30 tahun, kok dari pemerintah tidak ada sama sekali kontribusinya. Semua kita cari sendiri,” ujar Ketua PMI Batam, Sri Soedarsono, seperti dilansir dari Harian Batam Pos.

Sementara PMI di seluruh daerah lain, kata Sri, pemerintah setempat selalu tanggap memberikan bantuan ke PMI. Baik itu bantuan dalam bentuk bangunan hingga bantuan untuk biaya operasional yang cukup besar tiap tahunnya.

”Kita tidak (ada bantuan). Untuk membantu periksa darah saja tidak bisa dibayarkan tahun ini. Karena tidak punya uang. Untuk gedung sendiri sudah tidak bisa lagi (dibayar), uangnya habis untuk utang dan masih banyak,” katanya awal September lalu.

Dimana, untuk biaya operasional PMI Batam itu dalam satu tahun membutuhkan biaya sebesar Rp 2,5 miliar. Biaya itu digunakan untuk biaya operasional penyimpanan darah dan pelatihan bagi remaja.

Tidak sampai di sana, anggaran itu juga dibutuhkan untuk biaya sewa gedung. Sebab, sampai saat ini PMI Batam belum mempunyai gedung sendiri.

”Memang terancam tutup. Tapi jangan sampai. Kita semangatnya masih tinggilah. Meskipun kita hidup hari ke hari masih banyak yang bantu. Kami akan tetap berjalan, tidak ada berhenti. Kita akan upayakan semaksimal mungkin,” tegasnya.(uma/jpg)