batampos.co.id – La Ode Arif Rahman seorang pekerja harian lepas pembangunan jembatan Selayang Pandang II (SP II) di Kabupaten Kepulauan Anambas mengalami kecelakaan kerja saat hendak memasang pipa falling beton. Dengan kejadian itu dia kehilangan jari kelingking tangannya sebelah kanan.

“Saya memasang garpu besi dan pipa failing beton, jari kelingking tangan saya terjepit pada 3 Agustus 2020 yang lalu,” ucapnya.

Usut punya usut ternyata La Ode Arif Rahman belum genap usia 18 tahun. Dirinya tercatat berdomisili di Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Dia lahir pada bulan November tahun 2002.

Hal itu setelah media ini memperoleh dokumen Kependudukan Kartu Keluarga (KK) dari pihak keluarganya. Artinya pada saat kecelakaan kerja terjadi, La Ode belum genap berusia 18 tahun dalam pekerjaan pembangunan jembatan Selayang Pandang II tersebut.

Proyek Jembatan Selayang Pandang ( SP II) di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas. Kamis ( 15/10/2020). ( Foto : Faidillah/batampos.co.id)

Sementara itu Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kabupaten Kepulauan Anambas Ronald Sianipar, mengatakan jika hal ini benar perusahaan harus bertanggung jawab.

“Sangat disayangkan, karena itu sudah termasuk eksploitasi anak. Di undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,” ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (15/10/2020).

Sementara itu Kepala Dinas Penanaman Modal, PTSP, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kepulauan Anambas, Yunizar Kailani mengatakan terkait batas usia umur dalam ketenagaan kerja sesuai aturan undang-undang nomor nomor 13 tahun 2003. “Dilarang mempekerjakan anak atau dibawah umur,” ucapnya.

Lanjut dia lagi mengutarakan sejak dimulainya pekerjaan pembangunan jembatan Selayang Pandang di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, hingga sampai saat ini pihaknya belum pernah mengetahui keterangan laporan jumlah pekerja itu.

“Kami telah memanggil pihak PT itu beberapa waktu yang lalu, namun tidak ada respon. Kami pun tidak tahu jumlah pekerja di pembangunan jembatan SP,” ungkap Yunizar Kailani.

Lebih lanjut dia mengatakan maksud pemanggilan itu adalah untuk saling berkoordinasi sebab para pekerja itu melakukan aktifitas pembangunan di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas.

“Pemanggilan ini sebelum terjadinya insiden kecelakaan kerja di pembangunan Jembatan Selayang Pandang,” kata Yunizar Kailani.

Dia pun mengatakan pihaknya siap membantu kepada korban yang mengalami kecelakaaan kerja itu. “Boleh mediasi ke pihak kami, karena disnaker setempat adalah mediator,” ungkapnya.

Di sisi lain Kasat Reskrim Polres Kepulauan Anambas, Iptu Julius Silaen, mengungkapkan perkara tersebut sedang ditangani Polres Kepulauan Anambas dan masih dalam proses.

“Perkaranya masih kita berproses dan sedang dilakukan penyelidikan dengan memeriksa beberapa orang terkait,” ucap Julius Silaen saat dikonfirmasi Batam Pos Online, Kamis (15/10/2020).

Seperti diketahui sebelumnya PT Ganesha Bangun Riau Sarana yang melaksanakan pekerjaaan pembangunan jembatan Selayang Pandang II (SP-II) di Kabupaten Kepulauan Anambas menelan anggaran Rp 72 miliar.

Hingga sampai saat ini, pekerja yang mengalami kecelakaan kerja tersebut belum mendapatkan hak-haknya seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

Sementara itu, Direktur Perusahaan PT Ganesha Bangun Riau Sarana, Rafni R, tidak dapat dikonfirmasi sampai berita ini diterbitkan.(fai)