batampos.co.id – Pemerintahan Presiden Joko Wododo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah berusia satu tahun. Beberapa bulan menjabat Indonesia, pemerintah sudah kedatangan tamu tak diundang berupa bencana wabah Covid-19 yang merusak berbagai sendi kehidupan mulai dari kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengatakan, banyak pekerjaan rumah (PR) pemerintah yang harus dilakukan. Namun, hal yang paling utama dibenahi terlebih dahulu adalah penanganan Covid-19 yang angkanya makin terus bertambah. Bahkan, Indonesia termasuk kedalam 18 negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia versi Worldometer. Tingginya kasus positif tersebut membuat mobilitas masyarakat rendah.

“Penanganan pandemi bermasalah dengan kasus harian masih berada diatas 4.000 sehingga total kasus terkonfirmasi mencapai 349.160 hingga 16 Oktober 2020,” ujarnya dalam pesan singkatnya, Rabu (21/10).

Menurutnya, pandemi Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi alami penurunan hingga menyentuh level minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 akibat terlambatnya penanganan Covid-19 yang dilakukan Pemerintah. Namun, jika dibandingkan dengan Tiongkok yang merupakan negara asal Pandemi mencatatkan pertumbuhan positif 3,2 persen di periode yang sama.

“Vietnam juga tumbuh positif 0,3 persen karena adanya respon cepat pada pemutusan rantai pandemi, dengan lakukan lockdown dan merupakan negara pertama yang memutus penerbangan udara dengan China,” ucapnya.

Selain itu, kesiapan Pemerintah dalam hal stimulus Penanganan Ekonomi Nasional (PEN) menghadapi resesi ekonomi relatif kecil hanya 4,2 persen dari PDB jika dibandingkan negara tetangga misalnya Malaysia 20,8 persen, Singapura 13 persen.

Stimulus kesehatan dalam PEN hanya dialokasikan 12 persen sementara korporasi mendapatkan 24 persen stimulus. Bhima menyebut, ada ketimpangan yang nyata antara penyelamatan kesehatan dibandingkan ekonomi.

“Ketimpangan semakin meningkat karena orang kaya terus menabung di bank dengan lebih sedikit membelanjakan uang nya. Sementara itu masyarakat miskin tidak memiliki cukup tabungan. Paska pandemi ketimpangan aset makin melebar,” tutupnya.(jpg)