batampos.co.id – Waduk Duriangkang menjadi penyuplai air terbesar untuk masyarakat Kota Batam yakni mencapai 70 persen.

Waduk Duriangkang memiliki volume sebesar 78.180.080 m3 dengan kapasitas 2.122,53 liter per detik.

Waduk Duriangkang dibangun mulai 1990 dan dioperasionalkan pada 2001 dan berada di dalam kawasan hutan lindung.

Perhatian khusus diberikan kepada waduk ini. Karena areanya yang sangat luas, di sekitar waduk Duriangkang kerap dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan aktivitas ilegal.

Seperti beternak, membuat keramba ikan, memancing, berkebun, dan lainnya. Bahkan ada yang menebang pohon secara ilegal di daerah tangkapan air (DTA) di sekitar waduk.

Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam bersama Ditpam BP Batam kerap melakukan patroli rutin untuk menjaga kualitas air baku di waduk tersebut.

Waduk Duriangkang. Waduk Duriangkang memiliki volume sebesar 78.180.080 m3 dengan kapasitas 2.122,53 liter per detik. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Bahkan beberapa waktu lalu, Anggota Bidang Pengelolaan dan Kawasan Investasi BP Batam, Sudirman Saad, turun langsung melakukan peninjauan Waduk Duriangkang.

Kata dia, peninjauan dilakukan karena masih banyak aktivitas penangkapan ikan di sekitar waduk.

“Bahkan pemancangan alat penangkap ikan yang stasioner di waduk masih kita temukan,” ujarnya.

Kata dia, menurut hasil kajian dari pengelola waduk, Waduk Duriangkang didesain untuk kapasitas 3 ribu liter per detik.

Namun saat ini terjadi penurunan sepertiga dari kapasitas awal.

“Faktor yang menyebabkan hal tersebut menurut kajian ada dua. Pertama perubahan iklim, yakni penurunan curah hujan. Kedua, adanya alih fungsi lahan di sekitar daerah tangkapan air,” ujarnya.(esa/adv)