batampos.co.id – Satuan Tugas (Satgas) Patroli Laut Jaring Sriwijaya 2020 yang terdiri dari Bea Cukai (BC) Wilayah Kepulauan Riau, Bea Cukai Batam, Pangkalan Sarana operasi (PSo) Tanjungbalai Karimun, dan PSo Batam, menggagalkan penyelundupan 50 juta batang rokok senilai Rp 37,2 miliar di Perairan Berakit, Bintan, Kamis (22/10).

”Potensi kerugian negara dari penyelundupan 50 juta batang rokok tanpa cukai sekitar Rp 52 miliar,” ujar Syarif Hidayat, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar-Lembaga pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Sabtu (24/10), dilansir dari Harian Batam Pos.

Syarif menuturkan, penindakan kapal pengangkut jutaan batang rokok tersebut, berawal dari kegiatan patroli yang dilakukan kapal BC 20007 di Perairan Batam hingga laut Natuna. Berdasarkan penginderaan radar kapal BC 20007 didapati sebuah kapal yang akan memasuki perairan Indonesia dan tiga unit high speed craft (HSC) yang akan melakukan ship to ship di perairan Berakit.

Syarif menuturkan, kegiatan tersebut disinyalir melanggar Undang­Undang Kepabeanan. Lalu, Kapal BC 20007 mendekati kapal target dan didapati sebuah kapal kayu dengan nama KLM Pratama yang sedang melakukan kegiatan ship to ship dengan sebuah HSC.

Sebelumnya, penindakan juga dilakukan Tim Patroli Jaring Sriwijaya 2020 bersama Tim Patroli Kanwil Bea Cukai Khusus Kepri juga menggagalkan speed boat yang bermesin enam unit mesin 250PK, Selasa (20/10). ”Kapal tersebut kedapatan membawa minuman keras impor tanpa dokumen kepabeanan dan memasuki wilayah Indonesia tanpa perizinan,” ujarnya.

Saat menangkap kapal penyelundup itu membawa 5.484 botol miras senilai Rp 1,8 miliar di Perairan Pulau nyamuk, Lingga. Dari kegiatan ilegal tersebut, potensi kerugian negara yang ditimbulkan jika minuman keras ilegal tersebut beredar mencapai Rp 1.856.576.600.

Dijelaskan Syarif, penangkapan ini bermula dari informasi yang diterima petugas bahwa akan ada penyelundupan minuman keras di Perairan Pulau Nyamuk.

Kanwil BC Khusus Kepri kemudian menurunkan tiga kapal, yakni kapal patroli BC 1288, BC 1403, dan BC 1189. ”Setelah informasi tersebut diterima, satuan tugas patroli laut Bea Cukai yang menggunakan kapal BC 1288 melakukan ronda laut di sekitar Perairan Pulau Nyamuk, Lingga, dan kemungkinan jalur yang dilewati kapal yang menjadi target operasi,” ujar Syarif.

Tidak lama kemudian, petugas menemukan tiga unit speed boat tanpa lampu melintasi Pulau Nyamuk menuju arah Pulau Buaya. Petugas kemudian mengejar hingga melepaskan tembakan peringatan untuk menghentikan laju speed boat.

Speed boat tersebut akhirnya menyerah setelah petugas BC memberikan tembakan ke arah mesin speed boat dan dilakukan penghentian paksa. Petugas langsung melakukan pemeriksaan ke dalam speed boat dan menemukan sebuah kotak hitam yang berisi minuman keras ilegal.

”Dari hasil pencacahan yang dilakukan, petugas Bea Cukai menemukan 363 karton berisi 5.484 botol minuman keras ilegal dengan nilai barang mencapai Rp 568.482.000 dengan potensi kerugian negara yang timbul jika minuman keras ilegal tersebut beredar mencapai Rp 1.856.576.600,” jelasnya.

Syarif menyebutkan, dari kegiatan dua kapal pengangkut barang­barang ilegal di Perairan Berakit, Bintan dan di Perairan Pulau Nyamuk, Lingga tersebut, ditaksir berpotensi kerugian negara hingga mencapai Rp 53,8 miliar lebih.(*/jpg)