batampos.co.id – Batam sudah lama menjadi tempat transit bagi para pencari suaka dari berbagai negara. Saat ini, sebanyak 213 pencari suaka tinggal di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), Sekupang. Di tempat itu, Amir, salah satu pengungsi asal Afganistan bersama pencari suaka lainnya bertahan menyambung hidup dari bantuan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), badan PBB untuk urusan pengungsi.

Menurut pria 26 tahun itu, ia sudah enam tahun tinggal di Rudenim ini. Bahkan, pria berbadan tegap itu sudah bisa berbahasa Indonesia. “Sudah enam tahun. Kegiatan hari-hari hanya olahraga seperti ini. Dua kali seminggu saya juga pergi ke pasar pagi beli sabun, pasta gigi, buah-buahan untuk dijual ke teman-teman yang ada di sini,” katanya.

Bagi Amir, tinggal di Rudenim Sekupang jauh lebih baik ketimbang balik ke negara asalnya, Afganistan. Bahkan ia menyebut, orang Indonesia jauh lebih baik dan sabar.

“Tak mau lagi (balik ke Afganistan), kalaupun belum ada negara yang menampung kami, di sini (Rudenim Sekupang) sudah lebih cukup,” ungkap Amir.

Disinggung mengenai apakah sudah ada negara penerima suaka dari UNHCR, Amir mengaku sampai saat ini belum ada kepastian. “Tak tau sampai kapan. Di sini pun kami tak ada diberi informasi,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Yasin, pencari suaka lainnya di Rudenim Sekupang. Ia mengaku sudah lima tahun berada di Rudenim. Selama itu, ia tidak pernah mendapat kabar mengenai negara penerima suaka bagi mereka.

“Sangat bosan. Sampai saat ini tak ada informasi,” katanya dilansir Harian Batam Pos.

Yasin mengaku, hari-harinya hanya diisi dengan berolahraga. Bahkan mereka pun mengaku tidak memperbolehkan pencari suaka bekerja. “Tidak boleh (bekerja) sama UNHCR.”

Seorang petugas di Rudenim Sekupang mengaku, pencari suaka di sini berjumlah 213 orang. Mereka berkewarganegaraan Afganistan, Somalia, Sudan, Irak, dan Palestina. Mereka hanya diperbolehkan di Batam.

“Jamnya juga kita batasi, mulai dari pagi sampai jam 22.00 WIB,” kata petugas yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, para pencari suaka ini juga tidak diperbolehkan bekerja. Biasanya mereka yang ketahuan bekerja di luar akan dipindahkan. “Ada beberapa dari mereka yang gak mau diatur dipindahkan ke Tanjungpinang. Untuk informasi langsung ke Tanjungpinang aja mas, kita hanya tugas menjaga mereka di sini,” tuturnya.

Disinggung mengenai makan dan minum pencari suaka, ia menjawab sepenuhnya menjadi tanggung jawab IOM dan UNHCR. “Termasuk juga kesehatan mereka, semuanya dari sana,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Batam, Hasimah, mengatakan, pencari suaka di Batam sepenuhnya menjadi tanggung jawab UNHCR dan International Organization for Migration (IOM). “Namanya itu suaka politik. Ada di bawah Kemenkumham yaitu Imigrasi bukan kita yang menangani,” kata Hasimah.

Menurutnya, Dinsos hanya menangani imigran miskin dan terlantar di Batam. Di luar itu masuk imigran politik. “Kalau dulu ada di dekat kantor wali kota lama, anaknya juga disekolahkan dan itu juga langsung dari UNHCR dan IOM langsung,” katanya.

Sementara yang ditangani Dinsos hanya bagi warga negara asing yang miskin atau terlantar di Batam. Semisal beberapa waktu lalu ada warga negara Singapura yang terlantar di Batam. Setelah diobati dua bulan pihak keluarga datang dan kita kasih ke keluarganya di sana,” kata Hasimah. (*/jpg)